Operator Perang Tarif Sepanjang Tahun 2007
Kapanlagi.com - Sejak pemerintah mengeluarkan Undang-undang Telekomunikasi Nomor 36 tahun 1999, disusul kebijakan mengundang operator telekomunikasi baru tahun 2002, industri telekomunikasi di Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat.Dari hanya dua operator seluler yaitu PT Telkomsel dan PT Indosat pada 2002, saat ini tercatat ada 11 operator telekomunikasi yang melayani jasa telepon seluler bagi seluruh masyarakat Indonesia, sampai-sampai Ditjen Pos dan Telekomunikasi Departemen Komunikasi dan Informatika (Postel Depkominfo) tidak mengeluarkan izin baru untuk operator seluler. Basuki menilai 11 operator telekomunikasi seluler yang ada saat ini sudah cukup untuk melayani masyarakat dan telah terjadi kompetisi yang tajam di dunia telekomunikasi di Indonesia, terbukti dari perang tarif antara operator. Ke-11 operator yaitu Telkom, Telkomsel, Indosat, Excelcomindo (XL), Hutchison (3), Sinar Mas Telecom, Sampoerna Telecommunication, Bakrie Telecom (Esia), Mobile-8 (Fren), dan Natrindo Telepon Selular (sebelumnya Lippo Telecom). "Kalau saya mengatakan sudah ada kompetisi, terjadi kompetisi tarif, dari akhir 2006 sampai tahun 2007 kompetisi tarif sudah terjadi," kata Basuki usai jumpa pers akhir tahun 2007 Depkominfo di Jakarta, Jumat (28/12). Basuki juga merujuk hasil penelitian dari Sri Adiningsih dari UGM Yogyakarta yang merupakan anggota Tim Peneliti "Restructuring the Telecommunications Industry: An Assessment on Industry Structure after Duopoly in Indonesia" bahwa industri telekomunikasi seluler di Indonesia memang sangat tajam terbukti dengan adanya perang tarif yang luar biasa murah di antara operator. "Sehingga tentu saja secara umum masyarakat diuntungkan dengan perkembangan baru tersebut baik karena harga yang terus-menerus turun dan pelayanan yang bersaing antara satu operator dengan operator lain," kata pengamat ekonomi Sri Adiningsih dalam hasil penelitiannya yang diperoleh di Jakarta, Rabu (5/9) Hasil penelitian yang dikeluarkan Agustus 2007 itu menyebutkan, berdasar data Oktober 2006 PT Bakrie Telecom (Esia) adalah operator yang menerapkan harga murah (Rp50 per menit antar pelanggan on-net-operator yang sama), dan Rp800 per menit untuk panggilan ke pelanggan off-net (dengan operator lain). Sedangkan untuk telepon bergerak, PT Mobile-8 (Fren) tarifnya Rp275 untuk menit pertama dan Rp14 untuk tiap menit berikutnya untuk on-net, dan Rp800 per menit untuk panggilan off-net. "Jelas dapat dilihat bahwa kedua operator tersebut menggunakan strategi tarif murah untuk menyaingi pesaingnya. Jadi dapat dilihat bahwa new comer (pendatang baru) menggunakan tarif rendah untuk penetrasi pasar. Demikian juga pemain lama (incumbent) juga tidak mau kalah, mereka menerapkan hal yang sama. Sehingga perang harga antar operator tak terelakkan," katanya. Selain itu tarif promosi juga banyak dilakukan oleh operator, di antaranya PT Excelcomindo Pratama menurunkan tarifnya sebesar kira-kira Rp149 per 30 detik, sementara Simpati (PT Telkomsel) memberlakukan tarif Rp300 per menit untuk pelanggan yang melakukan panggilan antara pukul 23.00 hingga 07.00. PT Indosat (Mentari) bahkan memberikan gratis kepada pelanggan yang melakukan panggilan antara pukul 00.00 hingga 05.00. Gambaran tersebut mengindikasikan bahwa industri telekomunikasi baik untuk jaringan tetap tanpa kabel dan seluler di Indonesia pada saat ini telah memasuki situasi "perang tarif", sementara para operator baru berusaha memaksimalkan kapasitas jaringan yang dimilikinya. Perang tarif Perang tarif antar operator sendiri pada tahun 2007 dimulai dari XL yang meluncurkan program paket super murah Rp25 per detik untuk melakukan percakapan lokal, SLJJ maupun SLI baik dengan sesama pemegang kartu yang sama maupun operator seluler lainnya pada Februari 2007. Kemudian Indosat meluncurkan program Mentari Pulsa Lokal Luar Biasa Hemat berupa layanan tarif nasional Rp50/30 detik tujuan lokal dengan cakupan wilayah nasional untuk pelanggan Mentari pada April 2007. Pelanggan Mentari yang sudah terdaftar dalam program ini akan dapat menelpon ke empat nomor yang telah terdaftar tersebut dengan tarif pulsa Rp50/30 detik pada hari Jumat, Sabtu dan Minggu selama 24 jam nonstop. Sedangkan pada hari Senin sampai Kamis, pelanggan Mentari pengguna program ini akan dikenakan tarif Rp250/30 detik (peak) dan Rp150/30 detik (off peak). Selain itu, Indosat meluncurkan program SMS Murah Bangets Rp40/SMS pada Mei 2007 dan program yang juga menawarkan program 10-4-10 dimana pelanggan IM3 yang mengirim 10 SMS ke operator mana pun dalam sehari, mendapatkan bonus 10 SMS yang hanya bisa digunakan untuk nomor IM3, Mentari dan Matrix. Persaingan tarif menjadi semakin tajam ketika XL menawarkan tarif Rp1 per detik ke sesama XL pada Juli yang dimulai dari daerah-daerah seperti Sumatera dan Sulawesi, Bali, Yogyakarta, Jawa Barat dan menasional. Karena keberhasilan program ini, XL kemudian memperpanjang tarif promo yang digelar untuk pelanggan Xplor dan pengguna bebas yaitu Rp1/detik mulai 1 Desember 2007 sampai 15 Februari 2008. Menyusul kemudian Hutchison merilis skema tarif baru yang diklaim bisa menjadi opsi terbaik bagi pelanggannya. Operator GSM seluler 3 ini menawarkan skema tarif setengah harga. Chief Marketing Officer Hutchison CP Telecom Indonesia, Suresh Reddy, menuturkan peluncuran skema tarif barunya ini merupakan langkah lanjutan dari program promosi tarif sebelumnya yang menawarkan bonus tiga kali lipat. Program tarif Xl Rp1/detik ini, membuat Telkomsel akhirnya mengeluarkan layanan Simpate PeDe (per detik) yaitu Rp0,5 per detik pada Desember 2007. Direktur Utama Telkomsel Kiskenda Suriahardja membantah bahwa penurunan tarif ini bukan dalam rangka memenuhi keputusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) yang meminta Telkomsel menurunakan tarifnya sebesar 15%. Perang tarif FWA Persaingan tarif pada operator Fix Wireless Acces juga semakin sengit, apalagi dengan munculnya produk Starone dari Indosat. Saat ini tarif dari Flexi Telkom Divre ke sesama Flexi untuk lokal dan Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ) yakni Rp49 per menit mulai Agustus 2007. Telkom mengklaim biaya percakapan lokal yang dikenakan Flexi adalah yang termurah untuk on-net selama 30 menit. Untuk percakapan lokal off-net selama 30 menit, Flexi hanya mengenakan tarif Rp 1.470, atau paling murah dibanding dua operator CDMA lain yang untuk percakapan berdurasi sama mengenakan Rp 1.500,- dan Rp 1.480,-. Sedangkan pada StarOne yang direlaunching November 2007, Indosat membuat paket Ngorbit atau Ngobrol irit Rp25.000 per bulan untuk on-net dan lokal: Rp.150/30 detik serta SLJJ Rp.400/30 detik, dan program Ngorbit menitan dengan tarif on-net Rp25 per menit serta telepon lokal dan SLJJ Rp.200/30 detik. Selain itu diberlakukan juga tarif hemat panggilan dari StarOne ke zone lokal selular Matrix, Mentari dan IM3 hanya dikenakan tarif Rp 200/30 detik Sementara untuk tarif telepon dari StarOne ke SLJJ Matrix, Mentari dan IM3 diberlakukan tarif Rp. 500 per 30 detik. Sedangkan tarif Fren dari Mobile-8 mulai September 2007 menjadi Rp38 per menit ke sesama Fren lokal dan non lokal sesamaa fren Rp550 per menit. Dengan peta persaingan tarif seluler antaroperator yang semakin tajam ini, Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar memprediksikan tarif seluler bakal semakin turun di masa mendatang. "Tarif seluler bakal turun di tahun 2008," kata Basuki. Makin turunnya tarif seluler dan tarif FWA ini memang yang diharapkan oleh pemerintah sesuai dengan tujuan dibukanya atau liberalisasi industri telekomunikasi Indonesia. Untuk mendapatkan tarif yang kompetitif, operator seluler dituntut untuk semakin efisien dalam operasionalnya dan dituntut untuk menjaga bahkan meningkatkan kualitas layanan maupun jaringan untuk meraih pelanggan sebanyak-banyaknya. Basuki bahkan melihat dengan semakin tajamnya persaingan, ada indikasi upaya marketing dari operator seluler yang berlebihan untuk menggaet pelanggan termasuk dengan memasang tarif yang mematikan (price predatory). Dia mengatakan price predatory misalnya seperti mengenolkan tarif yang dilakukan oleh beberapa operator seluler. Dia melihat dengan semakin besarnya biaya marketing operator seluler akan berdampak kepada tarif seluler kepada pelanggan. "Namanya price predator ini sangat berbahaya pada saat industri telekomunikasi baru dibuka. Price predatory menjadi sangat penting untuk kita atur," tegas Basuki. Masyarakat bisa berharap dari peran regulator atau pemerintah untuk terus mengawasi dan memperingatkan operator seluler menjalani kompetisi telekomunikasi saat ini. Pada akhirnya masyarakat pun bisa menikmati layanan telekomunikasi dengan kualitas yang bagus dan tarif yang murah. Penulis: Nur R Fajar (kpl/rit) |