"Maskapai penerbangan nasional belum bisa menampungp lonjakan wisatawan China yang datang ke Indonesia, dengan tidak bisa menambah frekuensi penerbangan yang sudah ada," kata Dubes RI untuk China Sudrajat, di Beijing, Kamis.
Hal tersebut dikemukakan Dubes Sudrajat untuk menanggapi antisipasi kunjungan wisatawan China ke Indonesia terkait dengan dimulainya "Visit Indonesia Year 2008" (VIY 2008), yang secara resmi diluncurkan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik, di Jakarta, Rabu (26/12).
VIY 2008 bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan sektor pariwisata dengan mengajak seluruh komponen masyarakat berpartisipasi mensukseskan tahun kunjungan wisata Indonesia 2008 yang ditargetkan dapat mendatangkan sebanyak-banyaknya kurang lebih tujuh juta wisatawan mancanegara (wisman).
Menurut Dubes Sudrajat, setelah dibukanya layanan "Visa on Arrival" (VoA) bagi warga China yang datang ke Indonesia, terdapat lonjakan kunjungan wisatawan ke sejumlah daerah, seperti ke Bali.
"Akibat keterbatasan pesawat dari maskapai penerbangan Indonesia yang melayani penerbangan langsung, maka wisatawan memilih sewa pesawat maskapai China," katanya.
Ia mengatakan, selama 2007 kebanyakan wisatawan China yang datang ke Indonesia menggunakaan pesawat sewaan "Southern Airlines" dari Shanghai ke Bali seminggu dua kali, juga maskapai "China Air" sebanyak dua kali seminggu untuk rute yang sama.
Tahun 2008 ini, kata Dubes, akan ada peningkatan penerbangan pesawat sewa dari Shanghai ke Bali seminggu empat kali dalam upaya mengantisipasi lonjakan penumpang wisatawan China ke Indonesia, khususnya ke Bali.
Dari data yang diperoleh, kata Dubes Sudrajat, jumlah wisatawan China yang terbang ke Bali menggunakan pesawat sewa selama 2007 setidaknya mencapai 30 ribu wisatawan dan tahun 2008 diharapkan meningkat dua kali lipatnya.
"Target total jumlah wisatawan China yang datang ke Indonesia sebesar 300 ribu orang selama 2007 dan data sampai Oktober 2007 mencapai 230 ribu orang," katanya seraya menambahkan bahwa target 2008 sedikit diatas 300 ribu wisatawan.
Ia mengakui, untuk mencapai target sebesar itu tidaklah mudah mengingat perlu upaya lebih keras lagi dan agresifitas dari semua pihak seperti Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, operator penerbangan, agen perjalanan, dan tentunya KBRI Beijing.
Dubes menilai, saat ini setidaknya ada tiga maskapai penerbangan nasional Indonesia yang melayani penerbangan Indonesia-China, yakni Garuda Indonesia, Batavia Air, serta Lion Air.
"Khusus untuk maskapai penerbangan nasional yang melayani penerbangan Jakarta-Beijing pergi-pulang hanya dilayani oleh Garuda Indonesia," kata Dubes.
Sementara untuk maskapai penerbangan nasional lain, baru hanya melayani rute Jakarta ke sejumlah kota di China selatan.
Sudrajat berharap, agar maskapai penerbangan Indonesia lebih giat lagi menjaring wisatawan asal China, antara lain dengan meningkatkan frekuensi penerbangan serta memperbaiki layanan yang diberikan kepada para penumpang.
Ia mengakui, selama ini maskapai penerbangan nasional sering dikeluhkan oleh wisatawan China, seperti dengan jadwal penerbangan yang sering tertunda atau terlambat, hingga layanan yang kurang memuaskan dibanding maskapai asing lainnya.
"Meyambut VIY 2008 ini hendaknya dijadikan momentum bagi pihak terkait pariwisata untuk bisa menjaring sebanyak mungkin wisatawan China, sehingga target total tujuh juta wisatawan asing datang ke Indonesia bisa tercapai," kata Dubes. (kpl/rit)