"Kanada sangat menyesalkan keputusan pemerintah Srilanka menarik Perjanjian Gencatan Senjata 2002," kata Bernier dalam pernyataannya.
"Penarikan dari perjanjian penting ini akan membuat upaya mendapatkan pemecahan politik yang dapat bertahan lama akan semakin sulit, dan hanya mendorong kemungkinan terjadinya aksi-aksi kekerasan yang dilakukan oleh kedua pihak akan semakin meningkat" katanya.
Pemerintah Srilanka Rabu malam mengumumkan pihaknya secara resmi menarik diri dari gencatan senjata 2002 yang diprakarsai oleh Norwegia, setelah berbulan-bulan terjadi peningkatan aksi kekerasan dan diduga hal itu sekarang ini makin merebak dalam konflik yang telah berlangsung berpuluh tahun itu.
Berdasarkan gencatan senjata yang mulai berlaku efektif 23 Februari 2002, kedua pihak pemerintah Srilanka dan Pembebasan Macan Tamil Eelam (LTTE) mendapatkan kebebasan untuk keluar dari perjanjian setelah memberikan pemberitahuan tertulis dua pekan sebelumnya kepada menteri luar negeri Norwegia.
Kementerian pertahanan Srilanka mengatakan bahwa pemerintah telah memutuskan untuk mencabut diri dari proses perjanjian itu secara resmi dengan pihak pemberontak, yang ingin membentuk satu negara Tamil yang terpisah di bagian utara dan timur pulau tersebut dari pulau yang mayoritas dihuni suku Sinhala itu.
"Kami masih sangat menyesalkan dampak dari meningkatnya aksi kekerasan bagi penduduk sipil, para pekerja kemanusiaan dan para penegak hak-hak asasi manusia (HAM).
"Aksi kekerasan tidak akan menghasilkan pemecahan apapun, sebaliknya akan membawa lebih banyak tragedi bagi rakyat Srilanka," kata Bernier.
"Kami menyerukan kepada semua pihak untuk menghormati hak-hak asasi manusia dan bekerja keras untuk mencari solusi-solusi politik yang akan membawa perdamaian bagi Srilanka," katanya. (*/cax)