< >

Krisis Semen Belum Teratasi di Aceh

Minggu, 06 Januari 2008 21:09
Kapanlagi.com - Kelangkaan semen yang terjadi di kota Banda Aceh dan sekitarnya selama sebulan terakhir, sejak awal Desember 2007, hingga kini belum teratasi, sehingga sebagian pengusaha jasa konstruksi tidak mampu menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu.

"Bagaimana bisa selesai tepat waktu kalau semennya tidak ada dan itu jangan disalahkan pengusaha. Dalam kondisi seperti ini mestinya pemerintah daerah harus berperan agar krisis semen tidak berlangsung lama," kata seorang pengusaha jasa konstruksi, Sabri Badruddin di Banda Aceh, Minggu.

Beberapa hari lalu, ia mengaku mendapatkan semen sekitar 20 zak di sebuah toko bangunan di Banda Aceh, namun harganya mencekik leher, yakni semen isi 40 kilogram dari biasanya Rp34.000 naik menjadi Rp55.000/zak, semen isi 50 kg dari Rp55.000 menjadi Rp65.000/zak.

Krisis semen mulai terjadi sejak awal Desember 2007, namun puncaknya mulai dirasakan pada pekan pertama 2008 karena alasan pasokan dari pabrik semen PT Semen Andalas Indonesia (SA) di Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar terhenti.

Menurut Sabri Badruddin, kalangan pedagang beralasan krisis semen terjadi karena pasokan dari PT SAI kurang lancar, sehingga sebagian pedagang pengecer di kota Banda Aceh mulai mengambil semen Padang dari Medan, Sumatera Utara (Sumut).

"Nah, semen yang dipasok dari luar Aceh harganya lebih tinggi karena sudah terbebani biaya tambahan ongkos angkut," katanya mengutip pernyataan seorang pedagang pengecer semen di Banda Aceh.

Informasi lain menyebutkan, kelangaan semen di Banda Aceh dan beberapa kabupaten/kota lainnya di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) terjadi akibat permainan sebagian oknum distributor karena beredar isu mulai tahun 2008 akan terjadi kenaikan harga semen, sehingga sebagian diduga menimbun stok.

Kalangan pedagang pengecer semen mengaku tidak menimbun stok dan tingginya harga jual semen yang dipasok dari luar Aceh karena disesuaikan dengan harga tebus dari para distributor serta beban biaya operasional (ongkos angkut).

Sementara itu Ketua Komisi D DPR Aceh H Sulaiman Abda mendesak aparat kepolisian mengusut tuntas kasus kelangkaan semen di Banda Aceh untuk mengungkapkan siapa sebenarnya aktor yang telah bermain nakal disaat gencarnya pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi di Provinsi NAD.

"Jika kelangkaan semen itu tidak segera diatasi akan banyak proyek pembangunan di Aceh yang terbengkalai dan tidak siap tepat waktu," kata Ketua Komisi D yang salah satu tugasnya adalah di bidang pembangunan. (kpl/rit)