< >

Sungai Barito Tercemar Air Asam

Rabu, 09 Januari 2008 07:28
Kapanlagi.com - Air Sungai Barito di wilayah Kota Banjarmasin Ibukota Propinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) tercemar berat air dengan kadar keasaman tinggi dari limbah perusahaan stock pile (lapangan penumpukan) barubara yang beroperasi di wilayah ini.

Wakil Walikota Banjarmasin, Haji Alwi Sahlan ketika dikonfirmasikan wartawan di balaikota Banjarmasin, Selasa membenarkan Sungai Barito di Banjarmasin terkena pencemaran limbah perusahaan tambang batubara di kawasan Pelambuan tepian Sungai tersebut.

Air limbah lima perusahaan tambang batubara yang mencemari Sungai Barito itu ternyata tingkat keasamannya cukup tinggi, yakni pH-3 padahal air limbah yang aman untuk lingkungan seharusnya pH-7.

Dengan kadar keasaman yang tinggi, air limbah itu dikhawatirkan merusak kehidupan biota sungai yang ada di kawasan tersebut, padahal di sungai tersebut diketahui begitu banyak spesies udang dan ikan, baik ikan air tawar maupun air payau.

Bukan hanya itu, dampak dari pencemaran tersebut dikhawatirkan pula mengganggu kehidupan masyarakat, khususnya warga yang tinggal di bantaran sungai karena hampir sebagian besar masyarakat masih mengandalkan air sungai untuk minum dan memasak, kata Alwi Sahlan.

"Kita tidak mengerti mengapa perusahaan tambang itu tidak mengelola air limbah dengan baik, padahal sudah beberapa kali diperingatkan," katanya.

Bukan hanya pengolahan air limbah di perusahaan yang mengapalkan jutaan meterkubik batubara per tahun tersebut yang kurang baik, tetapi juga pengelolaan lingkungan lainnya juga kurang baik.

"Buktinya dari hasil pemantauan, tidak ada penghijauan di kawasan operasi penumpukan batubara, selain itu tidak dibuatkan sistem drainase yang benar di wilayah itu, akhirnya seringkali terjadi genangan air yang merembes ke jalanan umum serta ke pemukiman, belum lagi debu batubara selalu beterbangan ke sana kemari di kawasan itu lantaran tumpukan batubara terlalu tinggi " tambahnya.

Kalau perusahaan tersebut masih tidak memperbaiki sistem lingkungan di kawasan tersebut, kemungkinan perusahaan tersebut akan ditutup sebelum ijin operasi mereka habis.

Berdasarkan catatan terdapat lima perusahaan stockpile di Banjarmasin dianggap mencemari lingkungan terutama terhadap udara dan air sungai, Barito.

Kelima perusahaan stockpile batubara itu PT Arung Muara Makmur yang habis ijinnya tanggal 3 Januari 2008, PT Putra Bara Mitra habis ijinnya 19 April 2009, PT Prima Multi 20 November 2008, PT Sumber Kimia Buana 30 Agustus 2008, serta CV Makmur Bersama yang habis ijinnya tanggal 6 Oktober 2008.

Warga Banjarmasin, khususnya yang tinggal di pemukiman yang sekitar stock pile dan lintasan jalan yang dilalui truk batubara berharap operasi perusahaan tambang itu sudah saatnya dihentikan, bukan hanya mengganggu ketenangan juga sangat rawan terkena penyakit paru-paru hitam (black lung).

Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, dr.Hj Rosaly gunawan ketika ditanya wartawan belum lama ini tak membantah bila warga sekitar aktivitas tambang emas hitam itu terkena serangan penyakit langka itu.

"Setiap adanya aktivitas tambang batubara memang melahirkan partikel batubara yang hitam di udara, kalau partikel tersebut terhisap terus menerus maka akan terjadi penumpukan di dalam paru-paru," kata Rosaly.

Tumpukan batubara yang ada di dalam paru-paru jelas sangat membahayakan karena bukan saja bisa menimbulkan kanker paru-tetapi akan merusak organ paru-paru itu sendiri yang pada gilirannya bisa fatal.

Oleh karena itu, ia menyarankan agar warga yang berada di sekitar aktivitas tambang batubara harus ekstra hati-hati dengan menghindari debu batubara yang bertebaran di udara.

Kalau memang harus bekerja di sekitar debu batubara hendaknya menggunakan masker atau alat pengaman lainnya agar menghindari partikel batubara itu masuk ke dalam paru-paru yang menyebabkan penyakit black lung.

Diberitakan, korban akibat debu batubara tersebut sudah banyak dirasakan warga di bilangan Pelambuan Banjarmasin, khususnya terserang penyakit insfeksi saluran bagian atas (Ispa).

Selain itu, dilaporkan seorang warga yang berprofesi sebagai tukang becak yang setiap hari bergelut di sekitar jalan aktititas tambang mengeluh sakit paru-paru dan dinyatakan menderita penyakit black lung.

Keberadaan stockpile batubara oleh lima perusahaan tambang batubara di wilayah Kota Banjarmasin tersebut telah melahirkan banyak protes masyarakat yang meminta agar stockpile tersebut segera ditutup.

Masalahnya selain menimbulkan kemacetan lalu-lintas, kerusakan jalan negara serta dampak penyakit yang ditimbulkannya sungguh mengkhawatirkan masyarakat.

Bentuk protes warga kehadiran aktivitas tambang di dalam kota tersebut, sudah begitu banyak disampaikan baik melalui keluhan warga ke pimpinan kota juga melalui unjukrasa termasuk membakar truk batubara yang masuk ke kawasan tersebut.

Bahkan aksi unjuk rasa mendatangi balaikota juga seringkali terjadi tetapi Pemko tampak tutup mata terhadap persoalan tersebut. (*/rsd)