"Saat ini, Pulau Jawa belum aman, potensi bencana longsor dan banjir masih bisa terjadi sewaktu-waktu sehingga kami imbau warga tetap waspada," kata BMG Stasiun Meterologi Kota Tegal, Agus Hadi Utomo di tegal, Selasa.
Menurut dia, potensi hujan tinggi, puting beliung, dan gelombang pasang disebabkan terjadinya penumpukan awan di selatan Jawa atau Nusa Tenggara yang membentuk garis konvergensi atau "inter tropical convergency zone".
"Garis ion biasanya terbentuk di atas wilayah Pulau Jawa yang terkadang berada di utara atau selatan dan awal terbentuknya angin barat pertama yang dibarengi angin kencang atau hujan dengan intensitas tinggi biasanya terjadi pada Januari hingga Februari," jelasnya.
Ia mengatakan, akibat cuaca di Laut Jawa ekstrim maka para nelayan diminta untuk mengurangi aktivitas berlayar di laut sebab hal tersebut akan mengancam keselamatan mereka.
"Ketinggian ombak yang disebabkan badai hujan mampu mencapai dua meter dan berbahaya bagi nelayan sebab kapal yang ditumpangi bisa terbalik diterjang ombak," katanya.
Ia menambahkan, peristiwa air laut pasang merupakan fenomena alam sebab saat terjadi bulan purnama, posisi bulan, bumi, dan matahari sejajar dalam satu garis sehingga mengakibatkan terjadinya gaya gravitasi yang menarik permukaan air laut ke atas.
"Hal ini juga sama dengan air pasang yang disebabkan saat pergantian bulan jawa," katanya. (*/rsd)