"Saya setelah mendengar informasi tersebut langsung melakukan pengecekan ke Werinama. Dari Werinama disampaikan semua jemaah haji asal Kecamatan itu telah berada masing-masing di desanya dan tidak ada speedboat tenggelam," katanya ketika dikonfirmasi di Ambon, Rabu. Isu berkembang jemaah haji asal Kecamatan Werinama tenggelam dengan speedboat sehingga satu orang di antaranya meninggal dunia. Uluputty pun meyakinkan kepastian tidak benar jemaah haji asal Werinama tenggelam dengan mengecek ke Namlea, ibukota Kabupaten Buru dan Masohi, ibu kota Kabupaten Maluku Tengah.
"Pengecekan ke dua kabupaten terdekat SBT itulah yang memastikan pernyataan disampaikan bagi masyarakat bahwa tidak benar jemaah haji asal Werinama tenggelam dan meninggal dunia sehingga mengatasi keresahan di saat perairan di Maluku dihantam angin kencang dan ombak tinggi dengan guyuran hujan," tambahnya. Ia mengakui, sejumlah jemaah haji asal SBT yang berangkat dengan KM.Pangrango dari pelabuhan Yos Sudarso Ambon, Selasa malam(1/1) terpaksa kembali dari perairan sekitar Pulau Tiga karena dihantam gelombang setinggi enam meter. Para jemaah haji itu sempat menunggu di ruangan tunggu pelabuhan Yos Sudarso Ambon sehingga dipolitisasi beberapa pihak dengan mengatakan bahwa jemaah itu terlantar.
Padahal, kata Uluputty , sebenarnya mereka menunggu bila cuaca baik, maka KM.Pangrango berangkat kembali ke SBT.
"Pemprov Maluku dan Pemkab SBT sudah menangani 10 Kepala Keluarga(KK) jemaah haji tersebut sehingga jangan dipolitisasi," pintanya.
Badai "helena" Uluputty dalam kapasitasnya juga sebagai Koordinator Posko Penanggulangan Bencana Pemprov Maluku, mengemukakan, senantiasa memantau perkembangan dampak badai "Helena" yang terjadi di wilayah Teluk Carpentaria, Australia Utara dengan peringatan dini telah disebarluaskan bagi masyarakat.
"Kami pun senantiasa berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan, Adpel dan Stasiun Meteorologi Pattimura Ambon guna mengantisipasi cuaca burukdengan gelombang pada perairan tertentu hingga enam sampai tujuh meter diselingi terpaan angin kencang,"tambahnya. Sementara itu, prakirawan Stasiun Meteorologi Pattimura Ambon, Vincent Pius Andy, secara terpisah, mengingatkan masyarakat agar tetap mewaspadai dampak badai "helena", kendati tidak langsung menerpa Maluku.
Hanya saja, lanjutnya, prakiraan menunjukkan daerah di Kabupaten Maluku Tenggara, Kepulauan Aru dan Maluku Tenggara Barat(MTB) yang letak geografis dekat Australia bakal terimbas angin kencang, gelombang enam hingga tujuh meter dan peningkatan curah hujan. "Kami pun telah memperingatkan aktivitas pelayaran bagi kapal-kapal pada perairan Banda, Aru dan Arafura sekitar 6 - 8 Januari karena diprakirakan tinggi gelombang empat - lima meter," ujar Pius. (*/cax)