Pantauan ANTARA, Jumat, hampir seluruh toko yang menjual berbagai jenis bahan bangunan diibukota Provinsi itu tidak lagi memiliki stok, karena tidak ada pasokan semen.
"Saya tidak lagi menjual semen, yang sudah berlangsung selama dua pekan" kata Ronie (56), salah satu pemilik toko bangunan di bilangan Jln Towua, Kecamatan Palu Selatan. Ia mengakui, meminta jatah pasokan semen kepada para distributor, tetapi hingga kini belum juga dilayani.
Hal senada juga diungkapkan seorang pedagang semen lainnya, Ny Sutarni, kesulitan untuk mendapatkan jatah pasokan semen dari distributor, sebab stok terbatas, sementara kebutuhan pasar meningkat.
Hal ini berlangsung lebih dari sebulan, semen di pasaran langka, sebab pasokan dari pabrik semakin berkurang.
Selain pasokan berkurang, juga pedagang harus mengangkut sendiri dari pelabuhan dengan biaya transportasi dan ongkos buruh cukup mahal.
Padahal, biasanya dalam keadaan normal, distributor sendiri yang mensuplai langsung ke setiap toko dengan jumlah tak terbatas. Namun sejak pasokan semen berkurang dari pabrik dan penyesuaian harga menyusul kebijakan pemerintah sejak awal Desember 2007 lalu menaikkan harga BBM industri, distributor hanya mengeluarkan DO dan pedagang sendiri yang mengangkut langsung di pelabuhan.
Sementara pimpinan CV Garindo Palu, Jemmy membenarkan semen makin sulit di peroleh di pasar dikarenakan pasokan semen dari pabrik dalam kurung dua pekan terakhir ini berkurang.
Selama dua pekan terakhir ini, distributor hanya mendapat pasokan semen Tonasa sebanyak 900 ton untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Palu dan Donggala serta Parigi Moutong.
Sebelumnya, kata dia, dalam kurun dua pekan mereka minimal mendapat pasokan semen hingga mencapai 4.000 ton.
Akibat pengurangan pasokan tersebut menyebabkan stok semen di pasaran saat ini menghilang. "kalau pun ada paling banyak dua-tiga zak dijual pedagang dengan harga jauh diatas HET yang ditetapkan Pemkot setempat," katanya.
Pimpinan UD Pelitah Indah, distributor semen Tonasa di Palu, Wandy Sugianto. Ia mengakui, stok semen digudang sudah habis terjual.
Distributor, katanya, tidak bisa berbuat banyak mengatasi krisis pasokan semen dan gejolak harga di pasaran, sebab besar-kecilnya pasokan sangat ditentukan oleh pihak pabrik.
Apalagi harga semen di pasaran kini sudah mencapai level Rp60 ribu/zak, menurut Wandy ini merupakan tindakan spekulasi para pedagang pengecer.
Distributor menjual semen kepada pedagang dan pengusaha yang mngerjakan proyek pemerintah sesuai dengan harga yang telah ditetapkan sebesar Rp36.500/zak.
Sementara Pemkot Palu beberapa waktu lalu menetapkan HET semen ditingkat pedagang pengecer Rp39 ribu/zak. Namun demikian, HET yang ditetapkan Pemkot tersebut diabaikan para pedagang pengecer.
Kelangkaan dan terjadinya gejolak harga semen di pasaran, bukan hanya berlaku di Palu, tetapi hampir menyeluruh kabupaten/kota di Sulteng.
Misalkan di kabupaten Poso, dan Morowali, harga semen saat ini sudah mencapai Rp65 ribu/zak. Begitu pula di Kabupaten Banggai, dan Tolitoli.
Kalangan pengusaha mendesak kepada pemerintah untuk segera mengatasi krisis dan gejolak harga semen di pasaran, sebab dikhawatirkan menghambat pembangunan proyek pemerintah. (kpl/rit)