< >

Harga Semen Masih Tinggi di Banda Aceh

Sabtu, 12 Januari 2008 16:44
Kapanlagi.com - Meskipun kelangkaan semen di kota Banda Aceh mulai teratasi, setelah unit pengantongan semen pabrik PT Semen Andalas Indonesia (SAI) Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar beroperasi kembali, namun harga jual semen pada tingkat pedagang eceran masih tetap tinggi.

Beberapa pedagang eceran semen di Banda Aceh, Sabtu, menyebutkan, pasokan semen dari ditributor mulai lancar sekitar sepekan lalu, setelah hampir sebulan lamanya terjadi kelangkaan yang membuat harga jual naik tajam, yakni isi 40 kg dari Rp34.000 menjadi Rp55.000/zak.

Persediaan semen pada tingkat pedagang eceran kini terlihat telah merata, terutama semen hasil produksi PT SAI, namun harga jual masih tetap tinggi dibandingkan sebelum krisis pada November 2007), seperti semen isi 40 kg kini dijual Rp40.000/zak.

"Harga tersebut belum termasuk ongkos antar ke tempat konsumen," kata seorang pedagang semen eceran di Banda Aceh.

Semen isi 50 kg yang sempat melonjak hingga mencapai Rp62.000 - Rp65.000/zak dari harga rata-rata sebelumnya Rp53.000 - Rp54.000/zak dilaporkan kini kosong, sedangkan permintaan terhadap bahan bangunan tersebut di awal 2008 dinilai meningkat pesat.

Ketua Komisi D DPR Aceh H Sulaiman Abda menduga kelangkaan semen di beberapa kabupaten/kota di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) akibat permainan sementara oknum pedagang yang ingin meraup keuntungan pribadi lebih besar terkait isu bakal kenaikan harga semen pada tahun ini.

Pada masa krisis semen, sebagian oknum pedagang memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sengaja menjual dalam skala kecil karena alasan persediaan terbatas dengan menetapkan harga yang mencekik lehar, padahal semen ini merupakan sisa stok lama yang dibeli lebih murah.

"Mereka beralasan, semen tersebut didatangkan dari luar Banda Aceh dengan harga tebus lebih mahal, sehingga harga jual lebih tinggi dari sebelumnya," tambah Sulaiman Abda.

Sebelumnya, Sabri Banadruddin ST, salah seorang pengusaha jasa konstruksi di Banda Aceh menyatakan kekecewaannya atas krisis semen yang berlangsung sekitar hampir sebulan akibat kurang terhentinya pasokan dari pabrik SAI Lhoknga dengan lokasi sekitar 17 km dari jantung kota Banda Aceh.

Terhentinya pasokan semen dari pabrik SAI diduga akibat konflik dengan masyarakat sekitarnya beberapa waktu lalu terkait tenaga kerja lokal, sehingga unit pengantongan semen SAI terhenti selama hampir tiga pekan, akhirnya persediaan semen pada tingkat pedagang eceran di Banda Aceh menjadi kosong.

"Konflik tersebut kelihatannya sudah selesai, produksi dari unit pengantongan semen SAI telah beroperasi kembali, namun pemerintah diminta mengontrol agar harga semen segera normal kembali," kata Sabri Badruddin. (*/erl)