Kepala Seksi Penjualan Sulteng PT Semen Tonasa, Burhanuddin Puanana, mengatakan kelangkaan terjadi karena lonjakan permintaan sampai 100 persen, dan diperparah terhentinya pasokan semen merek Bosowa dan Tiga Roda pada saat bersamaan.
"Pada penghujung tahun 2007 terjadi penurunan pasokan Tonasa dalam jumlah relatif kecil menyusul pemeliharaan mesin produksi. Tapi hal ini bukan penyebab utama, tapi lebih pada lonjakan permintaan," katanya saat dihubungi pertelpon di Palu, Minggu.
Menurut dia, kelangkaan semen hampir melanda seluruh wilayah di Indonesia karena kapasitas produksi tak mampu memenuhi lonjakan permintaan sampai 100 persen. Bahkan kelangkaan serupa juga terjadi di Sulawesi Selatan, tempat PT Semen Tonasa dan PT Bosowa beroperasi.
Lonjakan diduga kuat dipicu oleh permintaan proyek pemerintah yang mengejar target penyelesaian sesuai tahun anggaran 2007.
"Kelangkaan ini masalah nasional. PT Semen Tonasa sebagai Badan Usaha Milik Negara bahkan mengupayakan penambahan pasokan melebih RKP (Rencana Kerja Perusahaan)," ujarnya.
Mengenai harga yang membumbung di tingkat konsumen, Burhanuddin mengatakan pihaknya hanya mengatur harga distribusi sebesar Rp37.000 jika diambil di pelabuhan pengantongan dan Rp38.500 jika diterima di gudang.
"Soal harga di tingkat pengecer tidak diatur. Harga eceran biasanya diperhitungkan dengan biaya transportasi," ujarnya.
PT Semen Tonasa yang menguasai 80 persen pasar semen di Sulteng menjual sekitar 253.000 ton pada tahun 2007, mengalami peningkatan dibanding 2006 yang tercatat sekitar 238 ton. Target penjualan tahun 2008 belum ditetapkan karena harus ditetapkan dalam rapat kerja yang dijadwalkan dalam waktu dekan ini.
Kepala Distribusi Palu PT Semen Tonasa, Edi Santoso, mengatakan realisasi penjualan di wilayah Palu dan sekitarnya pada tahun 2007 mencapai 187.657 ton, melebihi target penjualan sesuai RKP 173.000 ton.
Realisasi penjualan pada periode Desember 2007 sebesar 11.251 ton, lebih kecil dari target RKP 16.250 ton, menyusul pemeliharaan mesin produksi. Realisasi penjualan di bawah target RPK namun relatif kecil terjadi pada bulan Juli (400 ton) dan Nopember (120 ton).
Kelangkaan terjadi, kata dia, dipicu oleh lonjakan permintaan dan terhentinya pasokan semen Bosowa dan Tiga Roda.
Ia menambahkan, harga yang naik sampai 50 persen di wilayah Palu dan mencapai 75 persen di daerah-daerah lain karena pedagang pengecer mengambil langsung DO (Delivery Order) di pelabuhan pengantongan.
"Akibatnya mobil pengangkut antri berhari-hari yang mengakibatkan tambahan biaya dan dibebankan kepada konsumen," katanya.
Syamsurizal, pedagang pengecer, mengakui mengeluarkan biaya tambahan angkutan yang mengatri pemuatan di pelabuhan pengantongan Tonasa di Labuan, Donggala.
"Besarnya biaya yang dikeluarkan bervariasi tergantung waktu yang dihabiskan selama mengatri. Bahkan pernah tambahan biaya mencapai Rp12.000 persak. Hal ini yang membuat harga di tingkat pengecer berfluktuasi," kata Syamsurizal, pemilik toko material Duta Bangunan.
Sampai pekan kedua Januari harga semen di Palu masih berfluktuasi pada kisaran Rp49.00 sampai Rp55.000 per sak. (kpl/rit)