Sekolah menengah Chunchang Nanlu di selatan tempat peristirahatan Hainan menggunakan dana pengentasan warga miskin senilai 10 ribu yuan (sekitar 12,6 juta rupiah) untuk membeli 36 anak babi, kata "Beijing News".
"Selain memelihara babi, murid juga harus menanam sayuran sebagai bagian dari kelas wajib," kata harian itu.
Sejumlah orangtua murid marah, karena waktu untuk kelas itu mengurangi waktu belajar dan mengadukan keluhannya kepada sejumlah media setempat.
"Setiap babi dapat dijual 1.600 yuan (lebih kurang 1,9 juta rupiah), dengan setiap kelas memperoleh keuntungan senilai 1.000 yuan (kira-kira 1,2 juta rupiah), sehingga akan menguntungkan sekolah untuk terus memelihara babi," kata koran itu mengutip pernyataan salah seorang orangtua murid.
Sekolah itu menyebutkan bahwa pelajaran itu bagus bagi pendidikan murid.
Harga babi di China melonjak akibat biaya besar pemeliharaan dan penyebaran penyakit telinga biru, yang membunuh jutaan babi pada tahun lalu.
Kekhawatiran akan peningkatan harga mencapai titik tertinggi di sebuah kota di baratdaya, tempat seorang pria memelihara tiga anak babi di apartemennya, kata media setempat sebelumnya.
Su Yanshan, penjagal ternak, memelihara babi itu di balkon tertutup apartemennya, yang terletak di lantai dua di Chongqing.
Istri Su berkata kepada harian "Chongqing Evening News" bahwa mereka berencana menjual babi 100 kilogram itu untuk perayaan Tahun Baru Imlek awal Februari, saat permintaan akan babi untuk berbagai sajian meningkat tajam. (*/rsd)