
"Aku kira kemanusiaan dan pluralisme," kata Rieke saat berbincang dengan wartawan, sebelum tampil dalam jumpa pers penunjukan dirinya sebagai Duta Energi di Jakarta, awal pekan ini.
Artis yang kini duduk sebagai pengurus salah satu departemen di PDIP tersebut berpendapat, jika masyarakat umum termasuk aparat pemerintah memiliki moral yang baik serta paham betul mengenai nilai-nilai kemanusiaan dan pluralisme, niscaya cita-cita bangsa mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi segenap anak rakyat akan tercapai.
Berbicara tentang sistem hukum, ia mengatakan, "Kayaknya sih sudah baik ya. Masalahnya mungkin ada pada pelaksanaan."
Bagi Rieke, sehebat dan sebagus apa pun sistem hukum di sebuah negara, tidak akan berfungsi jika para pelaksananya tidak taat aturan.
Belum lama ini, Rieke ikut melakukan studi banding ke Parlemen di Jerman. Ia mengungkapkan satu peristiwa yang dialami dan membuatnya cukup kaget. "Tasku ketinggalan di sebuah stasiun, semua surat, dokumen, uang, pokoknya segala macam barang ada di tas itu. Eh, ada yang mengembalikan ke hotel tempatku nginap. Isinya lengkap, satu pun enggak ada yang hilang. Kalau di (negara) kita, yah tau sendirilah. Padahal masyarakat di sana (Jerman) banyak yang atheis loh," katanya.
Menyinggung masalah bercampur baurnya urusan hukum negara dan agama di Tanah Air, ia menyatakan seharusnya terpisah. "Agama itu urusan kita masing-masing dengan Allah."
Saat ditanyakan apakan dia setuju jika kemanusiaan dijadikan sila pertama, Rieke menjawab, "Ya, gimana ya, tetapi aku kira kemanusiaan itu penting sekali."
Ketika ditanyakan tentang kepindahannya dari PKB ke PDIP, ia mengatakan dirinya sudah sembilan tahun di partai lama, dan merasa ide-idenya tidak bisa berkembang. "Tetapi itu bukan kesalahan partai lama loh. Mungkin akunya yang udah enggak bisa lagi," ujarnya. (*/boo)
Lihat Profil: Rieke Dyah Pitaloka