< >

Dua PLTU 80 MW di Babel Masuki Masa Tender

Rabu, 16 Januari 2008 22:43
Kapanlagi.com - Belasan perusahaan telah mendaftar untuk ikut pembangunan dua unit PLTU masing-masing di Air Anyir Bangka dengan daya 2x25 MW dan PLTU Belitung dengan daya 2x15 MW.

General manajer PLN Bangka Belitung, Karel Sampe Pajung, di sela kegiatan peletakan batu pertama hotel Bangka Asri, Rabu, mengatakan, pihaknya kini tengah melakukan evaluasi dari perusahaan yang ikut tender, sebelum menunjuk pemenang, membuat kontrak kerja dan penandatanganan kesepakatan pengerjaan proyek.

Dua PLTU yang dibangun itu, merupakan amanah yang dikeluarkan pemerintah melalui Perpres no 9/2006, tentang penyediaan listrik oleh swasta dengan dana PLN.

Pengerjaan proyek sempat tertunda enam bulan. Dalam tender sebelumnya untuk di Belitung tidak satu pun perusahaan yang mendaftar, sedangkan di Bangka hanya satu terdaftar dengan penawaran harga jauh di atas pagu nilai yang ditetapkan.

Karel menegaskan, biaya pembangunan PLTU itu sebesar 1-1,5 juta dolar AS per MW. Kebutuhan dana ditalangi oleh PLN.

Pengerjaan dua proyek kelistrikan skala besar itu membutuhkan waktu 18-24 bulan. Diperkirakan pada akhir 2009 atau 2010 keduanya sudah bisa beroperasi.

Dengan tambahan 80 MW daya listrik, berarti kebutuhan listrik untuk Bangka Belitung hingga 2011 sudah bisa tercukupi.

Daya listrik yang ada saat ini sebesar 52 MW di Bangka dan 30 MW di Belitung. Daya yang ada tidak mencukupi dan sejak 2005 tidak ada lagi pemasangan listrik baru.

Kini terdapat 25 ribu daftar tunggu dari warga yang berkeinginan agar rumah, tempat usaha, kantor dan yayasan mendapat aliran listrik PLN.

"Bila nanti dua PLTU bisa beroperasi, warga yang sudah masuk daftar tunggu akan mendapat prioritas pertama," ujarnya.

Ketua Real Estate Indonesia Bangka Belitung, Suhaili Basri, menyatakan, ketiadaan penambahan daya listrik baru mengakibatkan banyak pengembang menunda pembangunan rumah.

Bila kedua PLTU itu beroperasi pada 2010, maka pembangunan rumah baru baik untuk rumah subsidi, menengah, mewah dan rumah toko akan makin marak.

Kalau sekarang kegiatan pembangunan rumah tetap berjalan, dan pengembang harus mengadakan sendiri listrik dengan membeli genset, membuat jaringan yang menghabiskan dana ratusan hingga miliaran rupiah.

"Kalau tak ada listrik tidak akan ada orang yang mau beli rumah. Kita akhirnya membebankan investasi listrik kepada pemilik rumah dengan menaikkan harga jual," ujarnya. (*/rsd)