"Saya mau ketemu pak Presiden SBY. Saya mau minta pemerintah memulangkan jenazah istri saya. Saya juga meminta agar hak-hak istrinya selama bekerja di Saudi Arabia dipenuhi," kata Gino yang sehari-harinya berprofesi sebagai pedagang asongan di bus di Cianjur itu.
Dengan didampingi oleh sejumlah pengurus LSM Migrant Care, Gino --yang menanti selesainya rapat kabinet terbatas-- mengaku tidak mengetahui kalau istrinya telah dieksekusi karena tidak ada pemberitahuan dari pemerintah RI.
Gino mengatakan bahwa ia mengetahui eksekusi itu dari adiknya yang kebetulan menonton televisi beberapa hari setelah eksekusi.
"Tidak ada firasat bahkan istri saya sempat menelepon untuk mengatakan empat bulan lagi akan pulang," katanya seraya menambahkan bahwa semenjak berada di tahanan, istrinya hampir 30 kali meneleponnya.
Lebih lanjut sambil terisak ia mengatakan bahwa istrinya tidak pernah mengeluh.
"Istri saya tidak pernah mengeluh. Kalau soal tuduhan katanya dia difitnah, dituduh membawa emas. Istri saya sempat bersumpah tidak mengambil emas," ujar warga kampung Benda RT03/07 Desa Sukataris, Karang Tengah, Cianjur itu.
Pada kesempatan itu Gino yang mengaku datang ke Jakarta karena dibawa Migrant Care itu mengatakan ia dan keluarganya sedikit terhibur dengan santunan yang diberikan pemerintah.
Sebelumnya Gino memperoleh santunan yang diberikan langsung melalui rekening bank sebesar US$4.500 yang berasal dari asuransi kematian, US$1.500 dari PJTKI dan Rp10 juta dari Depnakertrans.
Sedangkan Ketua Migrant Care Anis Hidayah menyayangkan sikap pemerintah yang sangat terlambat memberikan informasi kepada pihak keluarga terkait dengan eksekusi mati atas Yanti.
"Klaim pemerintah bahwa keluarga sudah diberi tahu itu bohong," katanya. Ia kemudian meminta pemerintah tidak melihat kasus Yanti sebagai kasus kriminal murni namun juga melihat motif pembunuhan yang dilakukan Yanti.
Namun keinginan Gino untuk bertemu Presiden Yudhoyono tampaknya tidak mudah karena ketika berita ini diturunkan tampak aparat keamanan dan Paspampres berjaga-jaga di sekitar Gino yang menunggu Presiden Yudhoyono di luar ruang konferensi pers.
Sebelumnya diberitakan, Yanti Iriyanti binti Joko Sukardi dieksekusi mati pada Sabtu pagi pukul 10.00 waktu setempat akhir pekan lalu.
TKW asal Karang Tengah,Cianjur ini dianggap terbukti membunuh dengan mencekik majikannya,Aisha al-Makhaled, menggunakan bantal. Selain membunuh, Yanti juga disebut mencuri perhiasan majikannya yang tinggal di Provinsi Selatan Assir itu.
Sementara itu, Juru Bicara (Jubir) Deplu Kristiarto Legowo menegaskan pihaknya sudah berupaya keras memberikan perlindungan dan bantuan hukum bagi Yanti sejak kepolisian Arab Saudi menginvestigasi sampai menuju persidangan. (*/rsd)