"Saya akan mencoba bertahan dalam satu bulan ini, kalau tetap tidak ada keuntungan, saya akan kembali ke desa untuk melakukan usaha lain," kata Sumarno, pemilik usaha susu kedelai di Wonocolo, Surabaya, Kamis.
Menurut laki-laki kelahiran Tegal itu, harga kedelai di pasar saat ini sudah mengalami kenaikan hampir 100 persen dari Rp4.000 per-kilogram menjadi Rp7.500 per-kilogram dan hal itu masih ada kecenderungan naik lagi.
"Kenaikan harga kedelai itu cukup memukul usaha kami, karena kedelai merupakan bahan baku susu kedelai, sehingga usaha kami pun merosot drastis. Dulu, saya mampu membuat susu kedelai dari 20-30 kilogram kedelai, tapi sekarang hanya lima kilogram kedelai," katanya.
Selain itu, katanya, dirinya juga menghadapi kendala dari sisi konsumen. "Pelanggan saya itu cepat memutuskan langganan bila harga dinaikkan atau sebaliknya kualitas susu kedelai diturunkan menjadi agak encer," katanya.
Oleh karena itu, katanya, solusi yang ditempuh adalah mengurangi tenaga kerja dengan terpaksa dari puluhan orang menjadi lima orang saja. "Itu pun, saya sudah bicara kepada lima karyawan saya bahwa saya akan mencoba bertahan satu bulan ke depan," katanya.
Bila dalam satu bulan tak ada perkembangan yang positif, katanya, pihaknya sudah sepakat untuk menyerahkan usaha kepada lima karyawannya untuk menjalankan usaha susu kedelai yang sudah dirintis sejak awal tahun 1990-an itu.
"Saya sendiri akan pulang ke desa, saya akan merawat kedua orangtua, kemudian saya akan mendirikan lembaga pendidikan bagi orang-orang desa sambil bertani meneruskan usaha orangtua," katanya, sambil menerawang.
Lain halnya dengan pedagang tempe yang juga berbahan baku kedelai. "Saya tetap bisa berjualan tempe, karena pelanggan memaklumi kalau harga tempe dinaikkan dari Rp500 menjadi Rp600, kemudian tempe dengan harga Rp1.000 naik menjadi Rp1.200," kata Arif, pedagang tempe.
Pedagang tempe yang biasa mangkal di Jalan Jemurwonosari, Surabaya itu mengaku dirinya tertolong karena tempe merupakan makanan primer orang-orang kecil di Surabaya, sehingga mereka akan tetap mau membeli, kendati harga dinaikkan sedikit.
"Itu pun sangat bergantung harga kedelai, kalau naik terus, maka keuntungan kami pun akan semakin kecil, sehingga saya juga takut kehilangan pelanggan," kata laki-laki asal Jombang itu. (kpl/rit)