Ketika ditemui di Curup, ibukota Rejang Lebong, Jumat, ia menjelaskan, tahun lalu bibit kacang kedelai hanya ditanam pada lahan milik petani seluas 1.000 hektar, sedangkan tahun ini bantuan mengalami peningkatan menjadi 1.500 hektar tersebar di 15 kecamatan dengan jumlah 60 ton.
Menurut Rosihan, selain Kabupaten Seluma, Kabupaten Rejang Lebong merupakan salah satu setra kacang kedelai terbesar di Provinsi Bengkulu.
Lahan yang paling potensial di Rejang Lebong berada di Kecamatan Bermani Ulu dan Bermani Ulu Raya dengan luas lahan sekitar 700 hektar.
Bertani kacang kedelai memang sangat rumit, butuh ketekunan dan membutuhkan banyak modal bila dibandingkan dengan tanaman lain, sebab hamanya selalu berbedah.
Oleh karena itu, para petani kacang kedelai harus mengintensifkan pengawasan, katanya.
Terkait menghilangnya produk kacang kedelai di pasaran Kota Curup, menurut Rosihan, hal itu lebih disebabkan karena permintaan terus meningkat, sehingga petani tidak sempat lagi menjual ke pedagang yang berada di pasar.
"Disamping permintaan banyak, para pengusaha, baik dari dalam maupun luar daerah lebih memilih membeli langsung kepada petani daripada ke pedagang pengecer yang berada di pasar Kota Curup, sehingga wajar saja sejak dua tahun ini, kacang kedelai tidak terlihat di pasaran," katanya.
Pernyataan Rosihan dibenarkan Uda Saf (46), pemilik gudang dan penjual hasil bumi terbesar di kawasan Pasar Atas Curup, yang mengaku sejak dua tahun ini tidak kebagian untuk menjual kacang kedelai dari petani lokal, karena para konsumen dan pengusaha tahu tempe daerah ini membeli langsung kepada petani.
Kalaupun ada, kacang kedelai yang dijualnya merupakan impor yang dulu dijual seharga Rp4.500/Kg, dan kini dirinya tidak lagi menjual karena tidak berani ambil resiko dengan harga cukup tinggi hingga Rp.7.000/Kg.
Di tempat terpisah, pengusaha tempe yang biasa dipanggil Ny. Yeni (27) warga Sidorejo Kecamatan Curup Utara mengaku pasrah dengan meroketnya harga kedelai.
"Sementara ini kami hanya bisa bertahan dengan untung yang sangat sedikit sambil menunggu harga kacang kedelai turun," ujarnya.
Tahu dan tempe yang diproduksinya sekedar memenuhi permintaan pelanggan, itupun ukurannya dikurangi dari biasanya, kalau makin berat terpaksa berhenti dulu. (kpl/rit)