< >

Peti Kemas Sabut Kelapa Lampung Diminati China

Sabtu, 19 Januari 2008 20:16
Kapanlagi.com - Cina memesan sekitar 200 peti kemas sabut kelapa dari Provinsi Lampung, namun provinsi di penghujung Selatan pulau Sumatera itu sampai saat ini belum mampu memenuhinya.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Provinsi Lampung, Suparmo, dan Kepala Seksi Ekspor Hasil Industri dan Petambangan Subdin Perdanngan Luar Negeri Dinas Perindag Prvinsi Lampug, Sobriadi Hasadi, mengatakan kondisi itu, di Bandarlampung, Sabtu.

Menurut Suparmo, sabut kelapa yang masuk dalam kelompok komoditas hasil industri, sebetulnya sangat potensial untuk meraih devisa bagi daerah Lampung, dan bisa mendapatkan keuntungan yang lumayan besar bagi para petani dan pedagang pengumpul serta industri yang mengolahnya.

Permintaan Cina akan sabut kelapa tersebut sudah berlangsung dua hingga tiga tahun terakhir, namun Lampung belum bisa memenuhinya karena berbagai faktor, seperti keterbatasan produksi perusahaan yang mengolah sabut kelapa kasar menjadi halus.

Suparmo menjelaskan pula bahwa jika satu petikemas saja berisi antara delapan hingga 12 ton, maka 200 petikemas yang dipesan Cina membutuhkan 1.600 sampai degan 2.400 ton sabut kelapa perbulan.

Sementara sesuai data terakhir, yakni Januari-Oktober 2007, Lampung baru mampu mengekspor sabut kelapa itu seberat 7.000 ton senilai 647.623 dolar Amerika Serikat (AS).

Angka itu bila dibandingkan pada periode yang sama tahun 2006 seberat 2.362 ton senilai 375.745 dolar AS, terjadi kenaikan volume 196 persen, begitu juga nilai devisanya naik 72,36 persen.

Khusus pada bulan Oktober 2007, Lampung hanya mampu mengekspor sabut kelapa 354 ton senilai 58.950 dolar AS, dibandingkan pada bulan sebelumnya September 2007 seberat 533 ton senili 77.316 dolar AS, volumenya turun 33,62 persen, begitu juga devisanya anjlok 23,75 persen.

Sedangkan selama tahun 2006, Lampung juga baru mampu mengekspor sabut kelapa seberat 3.642 ton menghasilkan devisa 502.799 dolar AS, jika dibandingkan dengan tahun 2005 yang baru 323 ton senilai 45.363 dolar AS, maka volumenya melejit sampai 1.025 persen, begitu pula nilai devisanya naik 1.008 persen.

Sebagian besar ekspor sabut kelapa asal Lampung itu selama tiga tahun terakhir juga ditujukan ke negara Cina.

Provinsi Lampung termasuk salah satu sentra produksi buah kelapa yang besar di Indonesia dengan luas areal perkebunan kelapa sekitar 150.000 hektare, tersebar di beberapa kabupaten, seperti Lampung Selatan, Tanggamus, Lampung Tengah, Lampung Timur, dan Kabupaten Lampung Utara.

Buah kelapa Lampung itu selain untuk memenuhi kebutuhan kelapa parut, santan atau bahan baku minyak goreng serta kopra di Lampung sendiri, juga banyak untuk membantu memenuhi kebutuhan provinsi tetangga seperti Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) dan juga Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. (kpl/rit)