"Hingga saat ini baru ada tiga hingga empat pemda yang berinisiatif untuk membantu pengusaha kecil ini, berupa pemberian subsidi pembelian kedelai," kata Deputi Bidang Pertanian dan Kelautan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Bayu Krisnamukti, di Solo, Sabtu (19/1).
Ia menjelaskan, bantuan subsidi yang dananya diambilkan dari APBD setempat ini berupa bantuan pembelian kedelai yang besarnya bervariasi, misalnya Rp1.000-Rp1.500 per kg.
Kebijakan yang diambil beberapa daerah ini, kata dia, diharapkan dapat diikuti oleh pemda-pemda lainnya.
Ia menjelaskan, sebenarnya pemerintah pusat juga akan menerapkan pola yang serupa, namun terdapat kendala dalam implementasinya, yaitu kurang akuratnya data tentang pengusaha kecil pengguna kedelai ini.
Oleh karena itu, kata dia, pemda diharapkan dapat lebih berinisiatif karena pemda yang lebih tahu dan memiliki data akurat tentang pengusaha-pengusaha kecil ini.
Sementara itu, upaya yang telah dilakukan pemerintah untuk menekan harga kedelai dalam negeri ini ialah dengan menurunkan bea masuk impor kedelai.
"Selama ini, Indonesia masih melakukan impor kedelai untuk mencukupi kebutuhan nasional yang mencapai 1,8 juta ton per tahun," katanya.
Ia menuturkan, 70 persen kebutuhan kedelai Indonesia masih dicukupi melalui impor. Menurut dia, produksi kedelai nasional hingga saat ini masih kurang dari satu juta ton, padahal kebutuhan nasional mencapai 1,8 juta ton.
"Tahun 2007, produksi kedelai nasional baru mencapai 680 ribu ton," katanya. Dengan penurunan bea masuk, kata dia, hanya dapat menekan harga kedelai sekitar 10% dari harga saat ini.
Namun menurut dia, uapaya jangka panjang yang harus dilakukan ialah meningkatkan produksi kedelai nasional, sehingga kebutuhan dalam negeri dapat dicukupi.
Bayu mengatakan, sekitar Juni-Agustus mendatang diperkirakan produksi kedelai dunia akan naik, sehingga diharapkan harga kedelai akan turun, meski tidak kembali pada harga awal sekitar US$300 per ton.
"Tetapi seridaknya lebih rendah dari yang sekarang," katanya. (*/bun)