Sekretaris Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Cabang Padang, Djaswir Loewis, di Padang, Sabtu (19/1), mengatakan, produksi cengkeh asal Sumbar cenderung minim karena sedikit petani yang mengusahakannya, padahal permintaan tergolong tinggi.
"Cengkeh asal petani Sumbar kini hanya memenuhi kebutuhan lokal khususnya untuk sejumlah pabrik rokok di Pulau Jawa, dan hampir tidak ada untuk dieskpor," katanya.
Menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Sumbar, Yenifra, harga cengkeh di Sumbar masih tergolong baik Rp37.000 hingga Rp38.000/kg, karena para petani langsung menjual ke pabrik rokok. Membaiknya harga cengkeh itu, katanya, karena dijual tidak melalui perantara.
"Kini dua pemilik pabrik rokok langsung membeli cengkeh ke petani di Kabupaten Kepulauan Mentawai," katanya.
Menurut dia, petani Sumbar kini masih menjadikan cengkeh sebagai komoditi pertanian sampingan untuk diusahakan karena hanya panen sekali setahun.
Sentra cengkeh di Sumbar berada di Kabupaten Solok, Pasaman, Tanah Datar, Kepulauan Mentawai, Pesisir Selatan dan Kota Padang, dengan produksi sebanyak 1.512 ton/tahun dengan area mencapai 6.458 hektar. (*/bun)