< >

Kurang Modal dan Air, Petani Enggan Tanam Kedelai

Minggu, 20 Januari 2008 21:21
Kapanlagi.com - Kekurangan modal dan tenaga serta persediaan air irigasi yang tidak cukup saat musim kemarau, menyebabkan para petani pada sejumlah desa di Provinsi Lampung enggan menanam kedelai.

Sejumlah petani yang dihubungi secara terpisah di Kecamatan Pubian, Kalirejo, Kabupaten Lampung Tengah, dan di Padangcermin serta Punduh Pedada, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung, Minggu (20/1), umumnya mengatakan bahwa mereka menghadapi kendala di bidang permodalan dan pasokan air.

"Para petani di sini jarang yang mau menanam kedelai, setelah panen padi gadu kalau tidak tanam jagung ya kacang hijau atau sayur-sayuran," kata petani di Desa Kalirejo, Lampung Tengah, M. Jamil (35).

Begitu pula para petani di Desa Kotabatu, Kecamatan Pubian, Kabupaten Lampung Tengah, sekitar 100 Km dari Kota Bandarlampung, hanya beberapa gelintir yang menanam jagung dan kacang hijau, apalagi kedelai.

"Kami bukan tidak mau menanam, karena selain modal untuk beli bibit tidak ada, juga lahannya banyak kering, karena kalau tidak disiram ya tidak bisa panen," kata petani di desa itu, Rowi.

Sama halnya para petani di Desa Kampungbaru, Kecamatan Punduh Pedada, Kabupaten Pesawaran, sekitar 65 Km dari Kota Bandarlampung, banyak petani yang membiarkan lahan mereka terlantar (membelukar), setelah gagal menanam padi gadu, karena tidak ada air irigasi.

Para petani di sentra pertanian tersebut sangat mengharapkan pemerintah membantu petani berupa sarana produksi (sapordi) dan sarana pengairan (sumur-sumur bor) agar mereka bisa menanam padi dan palawija secara teratur.

"Sekarang mau menanam padi dua kali setahun saja sulit, sedangkan mau tanam palawija butuh modal tambahan," kata seorang petani lagi.

M. Jamil menamahkan, akibat keterbatasan kemampuan modal petani itu, para petani umunnya menuggu masa tanam padi setelah hujan turun dan lahan sawahnya ada air.

"Jadi petani jarang yang mau menanam palawija, karena modal dan tenaganya sengaja disiapkan untuk menanam padi," katanya lagi.

Provinsi Lampung pernah digagas menjadi `lumbung` kedelai nasional, namun rencana itu dihentikan ketika menteri yang memiliki gagasan itu diganti, kata Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Provinsi Lampung Hanafie Sirajuddin.

"Ketika bertugas di Dinas Transmigrasi, Mentrans waktu itu sangat peduli dengan budidaya kedelai bahkan telah mencoba menanam di Mesuji, Kabupaten Tulang Bawang, hasilnya mencapai dua ton per hektare.

Pemerintah Daerah Provinsi (Pemdaprov) Lampung sendiri segera merumuskan formulasi penanganan komoditas kedelai, baik produksi maupun distribusinya.

"Kalau distribusi adalah wewenang dinas perdagangan, nanti akan kita mintai penjelasan soal itu pada rapat beberapa hari ini. Jangan sampai Lampung kekurangannya begitu parah," kata Sekdaprov Lampung, Irham Jafar Lan Putra.

Sementara harga kacang kedelai pada sejumlah desa di Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung, sekitar 65 KM dari Kota Bandarlampung juga naik dratis, sampai 100% dari pekan-pekan sebelumnya.

Pedagang pengumpul hasil bumi di Desa Kampungbaru, Kecamatan Punduh Pedada, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung, mengatakan, sebelum terjadi kenaikan, harga kacang kedelai di desa itu hanya Rp3.500 sampai Rp4.500/Kg, namun sekarang sekitar Rp8.000 hingga Rp8.500/Kg. (*/bun)