
"Aku tidak bisa membayangkan rasanya melakukan adegan percintaan sambil disorot kamera dan ditonton banyak kru film," kata Nadia Shapira di Jakarta, Senin.
Mahasiswi Jurusan Hukum di sebuah universitas swasta di Jakarta ini mengungkapkan, beradegan "panas" seperti dalam beberapa film dewasa garapan sineas Indonesia bukan hal mudah. Karena itu dia sangat memuji para pemain yang bisa melakukannya.
"Aku salut sama Marsha Timothy di film MERAH ITU CINTA, di situ dia buka baju dan hanya memakai lingerie saja. Kalau aku, pasti udah malu sekali dan tidak percaya diri," ujar Nadia yang pernah bermain dalam film COKLAT STROBERI dan ADA APA DENGAN CINTA?.
Menurut dia, adegan "panas" yang kerap dilakukan pemain dalam film-film dewasa seharusnya tidak diributkan atau disensor secara membabi-buta sebab adegan itu merupakan bagian penting dari keseluruhan cerita.
"Kalau adegan itu merupakan kesatuan dari cerita dan sesuai dengan naskah, mengapa tidak? Menurutku adegan semacam itu tidak masalah, apalagi kalau cerita dan skenarionya bagus, pemain-pemainnya berkualitas, dan alasannya tepat," katanya.
Belum lama ini, sejumlah film karya sineas Indonesia mengalami pemotongan hingga beberapa menit oleh Lembaga Sensor Film (LSF) karena menampilkan adegan "panas" pemainnya. Misalnya film 3 HARI UNTUK SELAMANYA (2007), RADIT DAN JANI (2008), PEREMPUAN PUNYA CERITA (2008).
Nadia mengatakan, meski tidak cukup percaya diri dengan adegan "panas", ia tidak alergi terhadap film yang menampilkan adegan bermesraan. Ia mencontohkan dalam perannya sebagai Key di film COKLAT STROBERI ia berciuman dengan Nesta (Nino Fernandez).
"Untuk adegan berciuman itu saja aku mikir-mikir agak lama, aku juga jelaskan pada orang tua bahwa adegan itu cuma beberapa menit saja dan akhirnya mereka bisa mengerti," kata sulung dari tiga bersaudara itu.
Nadia mengaku untuk adegan semacam itu, ia memang perlu berkonsultasi pada kedua orang tuanya. Setiap skenario film yang disodorkan sutradara padanya, biasanya melalui tahap seleksi orang tua.
"Mereka ikut andil 20% dalam pengambilan keputusanku, sedangkan 80% bergantung pada aku," demikian kata Nadia. (*/erl)
Lihat Profil: Nadia Saphira, Marsha Timothy, Nino Fernandez
Saya rasa masyarakat kita terlalu berlebihan berpikir kalau film sekarang bisa merusak moral bangsa atau merusak nama bangsa Indonesia . Pikir yg merusak nama bangsa itu Film yg dikatakan vulgar tau Pemerintah kita yg terkenal Koruptor dan bnyk simpanan juga FPI yg anarkis yg merasa paling bener..? Pejamkan mata dan dengarkan hati nurani kita. Go Nadia n friends
mnurut gw..apa yang disarankan oleh nadia saphira itu sangat mendukung perfilman indonesia..nadia..smoga saran km dpt diengar oleh lembaga sensor film agar adegan2 panas yang terjadi dlm setiap film tidak dipermasalahkan..ok!