< >

Rayakan Galungan Perkantoran Libur Tiga Hari

Selasa, 22 Januari 2008 10:23
Kapanlagi.com - Perkantoran pemerintah dan swasta di Bali mulai Selasa (22/1) selama tiga hari libur fakultatif terkait umat Hindu Dharma merayakan Galungan, hari raya terbesar dalam memperingati kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (keburukan).

"Selama tiga hari (22-24/1) itu sebenarnya hari kerja biasa. Namun Gubernur Dewa Beratha menetapkannya sebagai hari libur bagi seluruh karyawan-karyawati instansi pemerintah guna melaksanakan rangkaian kegiatan ritual," kata Kabag Publikasi dan Dokumentasi Biro Humas Pemprop Bali, Drs I Gusti Agung Putu Mayun di Denpasar, Selasa.

Ia mengatakan, selama "libur lokal" bagi karyawan instansi pemerintah dan perusahaan swasta menyesuaikannya, diharapkan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk melaksanakan rangkaian kegiatan ritual dan persembahyangan.

Libur fakultatif (tidak wajib) selama tiga hari itu diawali dengan "Penampahan Galungan" untuk melakukan berbagai persiapan upacara yang jatuh pada hari Selasa (22/1), disusul dengan Hari Raya Galungan (23/1) dan Umanis Galungan (24/1).

Sedangkan proses belajar-mengajar mulai tingkat taman kanak-kanak (TK), SD, SMP dan SMA/SMK secara resmi libur selama sepekan, 21-26 Januari 2008.

Menurut Kasubag Humas Dinas Pendidikan Propinsi Bali Drs I Dewa Made Nurjana Putra, anak-anak selama enam hari absen dari proses belajar-mengajar.

Namun pelaksanaan di lapangan sebagian anak-anak sekolah dasar (SD) di Kota Denpasar pada hari Senin (21/1) tetap melakukan proses belajar-mengajar, atau kerja bhakti persiapan sekolah dalam menyambut Hari Raya Galungan.

Libur Galungan bagi anak-anak sekolah kali ini waktunya diperpendek dari hari raya Galungan tahun-tahun sebelumnya yang pernah berlangsung selama dua pekan. Libur dua pekan tersebut berlangsung hingga sehabis Hari Raya Kuningan, rangkaian hari raya Galungan yang jatuh sepuluh hari kemudian, yakni untuk saat ini bertepatan Sabtu, 2 Pebruari 2008.

Hari suci Galungan yang dirayakan umat Hindu setiap 210 hari sekali menurut Drs I Ketut Sumadi M.Par, ketua program studi pemandu wisata Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar, selain bermakna memperingati kemenangan Dharma (kebaikan) atas Adharma (keburukan) juga memberikan keheningan atas kemakmuran dan kesejahteraan yang dilimpahkan Ida Sanghyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa.

Hari Kemenangan Dharma sekaligus kebangkitan "tangga" menuju pemusatan pikiran dan kesucian diri, agar umat manusia dalam menjalani kehidupan benar-benar suci dan bersih.

Pikiran suci akan mampu menghilangkan semua pengaruh yang bisa membawa dampak negatif. Umat Hindu pada hari baik itu menghaturkan sesaji kepada Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) dalam semua manifestasinya, sebagai perwujudan rasa bhakti dan syukur atas segala kemakmuran yang dilimpahkan-Nya.

Bumi Dewata yang dihiasi penjor, serta tempat-tempat suci dipasangi kain aneka warna pada hari yang "istimewa" itu, bagaikan memancarkan sinar kedamaian, yang mampu memberikan kesejukan pada setiap hati sanubari umat manusia.

Semua itu sebagai cermin merayakan kemenangan atas kebaikan (dharma) dalam mengusir kejahatan (adharma), ujar Ketut Sumadi. (*/cax)


BERITA TERKAIT