< >

Pasukan Sri Lanka Dikirimkan ke Selatan Setelah Serangan Pemberontak

Selasa, 22 Januari 2008 22:45
Kapanlagi.com - Sri Lanka, Selasa (22/01), mengirimkan ribuan pasukan keamanannya ke wilayah selatan yang di dominasi suku Singhala setelah terjadinya rentetan serangan pemberontak Tamil yang menewaskan 37 warga sipil dan tiga polisi, kata pejabat.

Diduga sekelompok pemberontak menembak tewas seorang petugas polisi dan dua orang polisi pamongpraja pada Senin malam, di dekat kota Thanamalvila, para para pejabat kepolisian.

Mereka telah dikirimkan di daerah itu untuk melindungi warga sipil dari serangan gerilyawan.

"Kami telah mengirimkan beberapa petugas senior untuk memperkuat dan meningkatkan keamanan di daerah itu," kata seorang pejabat polisi. Ia menambahkan, bahwa beberapa ribu petugas keamanan tambahan telah dikirimkan ke daerah itu.

Pihak pemerintah juga merekrut lagi orang-orang untuk memperkuat penjagaan daerah yang gampang diserang, sedangkan kantor-kantor polisi di daerah-daerah lainnya telah diminta untuk membebaskan polisi pamongpraja untuk memperkuat keamanan di selatan, kata pejabat tersebut.

Pihak militer juga menuduh Pembebasan Macan Tamil Eelam (LTTE) menujukkan serangannya terhadap penduduk sipil di selatan, pada saat pasukan pemerintah meningkatkan serangan-serangannya terhadap pemberontak suku Tamil di wilayah utara.

Dalam pertempuran berat di wilayah utara di mana Macan Tamil secara de facto mendirikan satu negara mini, kementerian pertahanan melaporkan jumlah korban tewas mencapai 51 pada hari Ahad san Senin, termasuk dua orang tentara.

Sejak awal bulan ini, kementerian pertahanan Sri Lanka telah mengklaim bahwa pihaknya telah menewaskan 555 pemberontak, dan hanya 24 prajuritnya yang tewas.

Panglima militer Sarath Fonseka mengumumkan rencana-rencana untuk menyingkirkan sekitar 3.000 kader LTTE pada enam bulan pertama tahun ini, atau sekitar 500 gerilyawan dalam sebulan.

Namun, jumlah korban tewas yang diklaim pihak militer itu tidak bisa diperiksa oleh suatu badan independen, karena memang tak ada wartawan atau kelompok-kelompok hak azasi manusia (HAM) yang mendapat akses untuk memasuki wilayah-wilayah perang. (*/lpk)