< >

MTI: Keselamatan Transportasi 2008 Memburuk

Selasa, 22 Januari 2008 19:06
Kapanlagi.com - Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menilai memasuki 2008, tingkat keselamatan transportasi nasional masih akan memburuk, menyusul belum jelasnya arah dan regulasi di berbagai moda transportasi, kondisi ekologi dan tingginya harga minyak dunia serta persaingan usaha yang tak sehat.

"Tingkat safety (keamanan dan keselamatan) transportasi nasional masih rawan dan cenderung memburuk di berbagai moda, kecuali udara yang ada harapan membaik setelah adanya tekanan bertubi," kata Koordinator Forum Keselamatan Transportasi MTI Heru Sutomo dalam MTI Transportation Outlook 2008, di Jakarta, Selasa.

Menurut Heru, momentum pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan mencapai 6,5% di 2008 akan mendorong pendapatan masyarakat yang diiringi intensitas perjalanan. "Semakin banyak perjalanan, potensi kejadian makin tinggi karena di Indonesia justru terjadi anomali," katanya.

Artinya, jika di negara lain, bertambahnya pendapatan justru tuntutan safety meningkat, tetapi di Indonesia justru sebaliknya. "Makin sejahtera, justru kebutuhan safety-nya makin jauh," katanya.

Ancaman lain adalah kenaikan harga minyak dunia yang mungkin dapat mendorong kenaikan harga BBM. Jika BBM tidak terdongkrak pun dipastikan biaya operasional transportasi turut naik karena komoditas lain naik.

Heru melanjutkan, ancaman lain adalah bencana alam seperti banjir dan longsor. Kemudian ancaman persaingan usaha yang makin ketat bisa menjurus penurunan mutu layanan dan keselamatan transportasi akibat tingginya harga minyak dunia.

Sementara itu, lanjutnya, pada sektor transportasi jalan, sejauh ini belum ada pembenahan yang berarti ditambah lagi peningkatan populasi kendaraan dari 45 juta tahun lalu menjadi 50 juta unit tahun ini. "Total perjalanan akan meningkat 10% demikian juga jumlah kecelakaan," ujar Heru.

Kemudian, sepeda motor akan tetap menjadi penyumbang terbesar mengingat populasinya yang mencapai sekitar 35 juta unit. Diperkirakan, 75% kecelakaan melibatkan sepeda motor.

Pada transportasi kereta api, ancaman kejadian kecelakaan masih akan menjadi favorit pemberitaan karena kondisi jalur yang sebagian masih rusak dan rawan gangguan bencana alam.

Intensitas kecelakaan, kata Heru, masih bertahan seperti tahun ini yakni tabrakan antar kereta 6,7 kali per tahun, tabrakan kereta dengan kendaraan jalan 39 kali per tahun dan anjlok 68 kali.

Transportasi laut, lanjut Heru, ancaman spesifiknya adalah armada kapal nasional yang tua di mana separuhnya di atas 30 tahun dan kondisi cuaca yang makin kurang kondusif. Ranking 9

Sektor transportasi yang dinilai paling pesat peningkatan aspek keselamatannya, menurut MTI, adalah transportasi udara. Perbaikan sektor penerbangan didorong tekanan larangan terbang Eropa dan juga didukung masuknya pesawat-pesawat baru.

Secara umum, kata Heru, pihaknya mengakui bahwa regulator transportasi sudah berbenah meningkatkan aspek keselamatan. Hal itu dikuatkan juga dengan menjadikan keselamatan sebagai aspek prioritas yang dikuatkan dalam paket regulasi transportasi.

"Jika pada 2006 tercatat 14 kali dengan penyebab utamanya kesalahan teknik pesawat sembilan kasus maka diharap pada 2008 terjadi penurunan yang signifikan," katanya.

Oleh karena itu, dia berharap agar pemerintah berani melakukan kebijakan radikal di sektor transportasi, terutama yang mengarah kepada tingkat keselamatan di berbagai moda. "Jika tetap biasa-biasa saja, maka rangking tingkat keselamatan transportasi Indonesia dibanding 10 negara ASEAN akan bertahan di urutan ke-9," katanya.

Persoalannya adalah di Indonesia selama ini, setiap ada pertumbuhan sektor transportasi maka angka kecelakaanya juga berbanding sama atau 1 : 1. "Jika Indonesia mau berubah maka setiap pertumbuhan sektor transportasi, maka angka kecelakaannya harus bertahap dikurangi menjadi separuhnya," katanya. (*/rsd)