< >

Kimia Farma Ajak Green Food Investasi Minyak Jarak

Rabu, 23 Januari 2008 14:29
Kapanlagi.com - PT Kimia Farma Tbk mengajak sebuah perusahaan China, Green Food, untuk melakukan investasi minyak jarak di Indonesia dengan total nilai sekitar US$200 juta.

"Perusahaan China sangat berminat mengembangkan minyak jarak dengan Indonesia dan kita ingin menggandeng untuk investasi di Indonesia," kata Direktur Utama perseroan M. Syamsul Arifin, di Beijing, Rabu.

Menurutnya, China saat ini ingin mengembangkan minyak jarak yang memiliki dua jenis yakni jarak kepyar dan jarak pagar yang banyak terdapat di Indonesia.

Jarak pagar biasanya digunakan untuk bioenergi sedangkan jarak kepyar bisa untuk industri kimia seperti pabrik cat, pabrik kosmetik, farmasi, serta bubur kertas.

"Kimia Farma sudah pengalaman sejak 1971 mengembangkan minyak jarak kepyar, makanya kita mau kerjasama dengan China dan kebetulan dia ingin investasi di Indonesia mencari mitra dan kebetulan kita akan garap bersama," kata Arifin.

Menurutnya, pihaknya dengan perusahaan China akan mengembangkan sekaligus dua jenis tanaman jarak mengingat keduanya memiliki fungsi dan manfaat yang banyak dan menguntungkan.

Khusus untuk jarak pagar pagar, katanya, China membutuhkan mengingat negara itu sangat haus energi, mengingat sumber energi dari minyak dan batu bara tidak terbarukan.

"Kalau energi yang diperoleh dari minyak jarak bisa terbarukan sehingga mereka sangat berminat untuk mengembangkan dengan kita yang ada di Indonesia," katanya.

Keuntungan lain dijadikannya jarak sebagai bahan bakar adalah tanaman ini mengandung racun sehingga tidak bisa dikonsumsi oleh masyarakat, beda dengan kedelai dan jagung yang juga bisa dijadikan energi tapi bisa dimakan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), katanya, telah melarang penggunaan jenis tanaman yang bisa dimakan untuk dijadikan bioenergi seperti kedelai dan jagung, dan jarak dinilai sangat cocok untuk digunakan sebagai sumber energi karena tidak bisa dimakan.

Keuntungan lain minyak jarak, katanya, adalah minyak tersebut sangat tahan terhadap cuaca dingin sehingga tidak mudah beku jika di ekspor ke China dan jika dipanaskan pada suhu 200 derajat celcius masih stabil.

Ia mengatakan, tanaman jarak tidak cocok ditanam di China mengingat tanaman itu tumbuh di lahan-lahan gersang yang ada di Indonesia, seperti di sejumlah wilayah di Jawa, NTT, dan NTB.

Kimia farma, katanya, saat ini sudah memiliki pabrik pengolahan minyak jarak yang berlokasi di Semarang dan telah memiliki kebun pembibitan.

Kebun pembibitan tersebut dinilai masih kurang dan masih mengembangkan perkebunan rakyat yang tersebar di Wonogiri, Grobogan, jember, Situbondo, mataram, dan Bima.

Ia berharap dengan adanya kerjasama dengan perusahaan China akan bisa mengembangkan lahan sendiri dengan volume yang besar sehingga mampu mengembangkan minyak jarak kepyar dan pagar.

"Sekalipun kita nanti telah memiliki lahan perkebunan yang besar bukan berarti kita tidak membutuhkan jarak dari para petani yang selama ini menjadi pemasok. Kita akan terima dari mereka berapapun mereka sanggup jual," katanya. (kpl/rit)