Kepala Dinas Peternakan Kalsel, Maskamian Anjam, Rabu, mengungkapkan, sejak kenaikan harga pakan awal Januari lalu, beberapa peternak terutama yang mandiri atau dengan modal sendiri mulai mengeluh.
Menurutnya, mereka mengaku tidak mampu lagi mengimbangi biaya produksi selama menunggu masa panen.
"Saat ini para peternak mandiri mulai mengeluh tidak mampu lagi mengimbangi biaya produksi akibat kenaikan harga pakan, bila kondisi ini terus berlangsung, secara bertahap mereka akan gulung tikar," katanya.
Dari sekitar enam ribu peternak ayam di Kalsel, 50%-nya atau tiga ribu peternak diantaranya merupakan peternak yang bekerja dengan modal sendiri.
Sedangkan sisanya, merupakan peternak hasil kerjasama dengan pihak lain, sehingga relatif aman atau tidak terlalu menanggung resiko besar saat terjadi kenaikan harga pakan ternak.
Diungkapkannya, kendati saat ini para peternak mandiri tersebut masih berproduksi, itu karena menunggu masa panen sisa modal yang lama atau sebelum terjadinya kenaikan harga pakan.
"Saya tidak tahu, bagaimana setelah masa panen atau ayam yang dibeli dengan harga lama sudah habis, apakah para peternak mandiri tersebut masih mampu bertahan atau menghentikan produksinya," katanya.
Kondisi tersebut kata Maskamian, diperparah dengan persaingan harga di pasaran yang cukup ketat akibat masuknya ternak dari daerah Jawa maupun lainnya ke Kalsel.
Akibatnya, peternak tidak mampu terlalu mendongkrak harga untuk mendapatkan sedikit keuntungan untuk kembali produksi dengan penyesuaian harga pakan ternak yang baru.
"Mendengar harga ayam atau daging di Kalsel sedikit lebih mahal saja, peternak di Jawa maupun daerah lain langsung berani memasukkan barangnya ke pasaran di daerah ini," katanya.
Akibatnya, peternak lokal kesulitan untuk mendongkrak harga sesuai dengan biaya produksi yang telah mereka keluarkan.
Gubernur Kalsel Rudy Ariffin, mengungkapkan, sampai saat ini pihaknya belum mampu berbuat apa-apa, karena masalah harga pakan ternak, jagung dan lainnya adalah kebijakan pusat.
"Kita akan pikirkan bersama-sama bagaimana jalan keluarnya, sampai saat ini belum ada kebijakan apapun terkait hal tersebut," demikian Rudy Ariffin.
Sejak sepekan terakhir, harga daging ayam maupun sapi naik yang cukup berarti. Untuk daging ayam naik dari sebelumnya hanya sekitar Rp19.300 menjadi Rp20 ribu.
Kenaikan harga tersebut, tampaknya belum mampu menolong peternak dari keterpurukan, karena harga tersebut merupakan harga di pasaran atau penjualan yang dilakukan oleh pedagang pengecer maupun tengkulak.
Sementara harga dari peternak ke tengkulak masih berkisar maksimal Rp17 ribu per kilogram. Jadi keuntungan terbesar masih berada pada tengkulak. (*/rsd)