< >

Tiap Bulan Kalbar Kekurangan Pasokan 720 Ton Elpiji

Rabu, 23 Januari 2008 21:32
Kapanlagi.com - PT Pertamina Unit Pemasaran (UPms) VI mengungkapkan terjadi kekurangan 24 ton elpiji di Kalimantan Barat setiap hari karena peningkatan pembelian serta terbatasnya tangki timbun di Stasiun Pengisian dan Penyaluran Elpiji Khusus (SPPEK) milik PT Gemilang Asia Sejahtera (GAS).

"Pengaruh cuaca buruk di bulan Desember juga ikut mengurangi kemampuan penyediaan elpiji di Kalbar," kata Pengawas Layanan Jual BBM Ritel UPms VI, Riawan Putra, di Pontianak, Rabu, usai menerima kunjungan kerja Komisi B DPRD Kalbar.

Berdasarkan data empat bulan terakhir, kebutuhan elpiji di Kalbar rata-rata 40 ton per hari. SPPEK memiliki tangki timbun berkapasitas 250 ton dan satu kapal tongkang 200 ton. Elpiji dipasok dari kilang di Plaju, Sumatera Selatan.

Namun, selama Desember 2007 terjadi pengurangan stok maupun pasokan karena cuaca buruk di Laut Cina Selatan. Bahkan, lanjutnya, sempat terjadi kekosongan pasokan selama tiga pekan.

"Stok yang ada dilepas ke pasaran dengan jumlah 10 ton per hari sehingga terjadi kekurangan elpiji," katanya. Kondisi itu diperparah dengan meningkatkan pembelian elpiji oleh masyarakat sejak Januari 2008 menjadi 64 ton per hari.

Menurut Riawan, hal itu karena muncul kekhawatiran masyarakat bahwa minyak tanah digantikan elpiji dan harga bahan bakar minyak naik.

"Meski sekarang pasokan sudah normal, namun tetap saja kekurangan karena untuk memenuhi permintaan sebelumnya," kata Riawan. Saat ini sebuah "floating bunker" berkapasitas 500 ton tengah disiapkan di Surabaya. Sedangkan untuk jangka pendek, Pertamina tengah mengupayakan pembelian elpiji melalui kontainer ke kilang Jakarta.

Ia memperkirakan kondisi akan normal pada akhir Februari ketika floating bunker tersebut mulai beroperasi. "Kapasitas di SPPEK itu diperkirakan mencapai 750 ton pada Maret mendatang," katanya.

Sejumlah agen elpiji di Pontianak mengeluhkan SPPEK karena tidak mampu menjamin pasokan sehingga terjadi kelangkaan dan harga di eceran naik mencapai Rp10 ribu - Rp40 ribu per tabung.

Namun Riawan membantah bahwa adanya SPPEK milik PT GAS itu membuat sistem penyaluran elpiji di Kalbar menjadi monopoli. Ia mengatakan, sebelumnya agen membeli elpiji langsung di Jakarta sehingga Pertamina tidak dapat memantau distribusi di Kalbar dan dikhawatirkan mengganggu stok di kilang itu. "Sekarang, penyaluran maupun masuknya elpiji di Kalbar menjadi lebih teratur," katanya.

Ia mengakui berdasarkan evaluasi yang dilakukan Pertamina ditemukan bahwa kapasitas tangki timbun dan angkutan elpiji oleh PT GAS belum maksimal. Penambahan kapasitas tangki timbun dan pengadaan floating bunker menjadi salah satu solusi.

Ia menambahkan, Pertamina tidak menutup peluang perusahaan atau pemodal lain untuk membangun SPPEK di Kalbar. "Tetapi sewaktu ditawarkan hanya PT GAS yang mampu," kata Riawan. Selain itu, PT GAS merupakan anak perusahaan dari Pertamina.

Namun ia tidak menjelaskan secara pasti mengenai penyebab tingginya harga elpiji di tingkat pengecer. "Kalau untuk tingkat SPPEK ke agen amat kecil kemungkinan terjadinya penyimpangan," katanya. Ia menyarankan pemerintah daerah membuat peraturan daerah mengenai harga eceran tertinggi elpiji yang disesuaikan dengan kondisi setempat. Harga elpiji di tingkat agen Rp68.700 per tabung untuk ukuran 12 kilogram.

Anggota Komisi B DPRD Kalbar, Asmaniar mengaku tidak puas dengan penjelasan Pertamina dalam mengatasi terbatasnya ketersediaan energi di Kalbar. "Walau Pertamina sudah menyampaikan antisipasi-antisipasi, tetapi faktanya masih terjadi kekurangan elpiji, minyak tanah di masyarakat," kata Asmaniar yang juga kesulitan mendapatkan elpiji untuk kebutuhan sehari-hari.

Sementara Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kalbar, Ida Kartini mengatakan, kenaikan harga elpiji berdasarkan hukum pasar. "Kalau stok sedikit, harganya pasti naik dan sebaliknya," kata Ida Kartini.

Berdasarkan data Disperindag Kalbar, PT GAS dalam bulan Desember 2007 menyalurkan 1.033,750 ton atau rata-rata 44 ton elpiji ke delapan agen utama. Sedangkan periode 1-21 Januari 2008, rata-rata 31,590 ton per hari atau 505.440 ton elpiji. (*/rsd)