< >

Tiru Penyelesaian Krisis Gula Untuk Tangani Krisis Kedelai

Kamis, 24 Januari 2008 14:11
Kapanlagi.com - Penyelesaian krisis kedelai yang terjadi saat ini bisa dilakukan dengan menerapkan model penanganan yang pernah dilakukan pemerintah saat menghadapi krisis pergulaan, pada beberapa tahun lalu.

Pengamat pertanian yang juga Wakil Sekjen Ikatan Ahli Gula Indonesia (Ikagi), Ir Adig Suwandi MSc di Surabaya, Kamis, mengungkapkan, krisis kedelai saat ini mirip dengan krisis gula yang terjadi pada 1999 silam.

"Saat tahun 1999, produksi gula hanya 1,67 juta ton, sementara impornya mencapai 1,9 juta ton. Krisis kedelai saat ini juga demikian, dimana produksinya hanya sekitar 800 ribu ton, sementara impornya lebih dari satu juta ton," katanya.

Menurut Adig, Indonesia pernah menjadi importer gula terbesar kedua di dunia setelah Rusia. Kondisi itu membuat petani tidak termotivasi menanam tebu, akibat harga gula rendah di pasaran.

"Kalangan pabrikan gula dan petani tebu kemudian mendesak pemerintah melakukan pembenahan atas carut-marutnya industri gula," katanya mengungkapkan.

Hasilnya, muncullah beberapa kebijakan yang meskipun belum sempurna, tapi setidaknya dapat menjadi payung perlindungan untuk membentengi diri dari serbuan gula impor. Kebijakan itu diikuti upaya peningkatan produktivitas gula.

Sejumlah kebijakan untuk mengatasi krisis gula diantaranya, pemberlakuan bea masuk, pembatasan impor secara ketat dan adanya jaminan berupa harga dasar untuk petani.

Dalam kaitan krisis kedelai saat ini, Adig Suwandi berharap, pemerintah mendesain ulang arah dan strategi pembangunan pertanian, agar krisis sejumlah komoditas pertanian primer berbasis impor tidak perlu terjadi seperti sekarang.

"Krisis kedelai merupakan pelajaran berharga yang harus mendorong semua pihak berpikir jernih bahwa upaya menggantungkan bahan pangan kepada pasar global berpotensi mengguncangkan sendi-sendi ekonomi bangsa," katanya menegaskan.

Ia menambahkan, melonjaknya harga kedelai di pasar global yang mencapai hampir tiga kali lipat dalam setahun terakhir, menjadi pemicu terjadinya krisis kedelai.

Disisi lain, animo petani untuk menanam kedelai sangat rendah, sehingga dalam sepuluh tahun terakhir, baik luas areal maupun produksinya merosot.

"Bagaimana mungkin petani mau menanam kedelai, kalau tidak ada perlindungan memadai dari serbuan produk impor dan harga yang selalu jeblok," katanya.

Menurut Adig, pemerintah dapat mempertimbangkan kemungkinan penerapan penanganan krisis gula untuk produk kedelai, meski dengan beberapa modifikasi sesuai karakter budidayanya.

Kebijakan pembebasan bea masuk impor kedelai yang dilakukan pemerintah, tidak lebih dari kebijakan "ad hoc" yang dilakukan dalam situasi panik. Penyelesaian yang terpenting adalah meningkatkan produksi melalui pemanfaatan keunggulan kompetitif sumber daya.

Adig Suwandi menambahkan, potensi Indonesia untuk berswasembada bahkan mengekspor kedelai dan sejumlah komoditas pertanian primer lain sangat besar, selama ada komitmen dan kemauan politik untuk memberdayakan petani.

"Harus ada program nyata tentang arah ketahanan pangan yang hendak dicapai dengan menomorsatukan kesejahteraan petani. Pengalaman gula dapat menjadi refleksi dalam menata ulang program swasembada pangan," kata Adig menegaskan. (kpl/rit)