Hal itu dikemukakan oleh Kuntoro dalam pidato sambutannya di acara "resepsi terima kasih" Pemerintah RI kepada dunia atas dukungan mereka dalam tanggap darurat di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Nias yang digelar di Balai Sudirman Jakarta, Kamis malam.
"Perjalanan pembangunan kembali Aceh dan Nias pasca-tsunami belumlah usai," katanya.
Menurut Kuntoro, masih ada rumah yang belum dilengkapi dengan prasarana listrik dan air bersih, serta sejumlah jalan dan infrastruktur besar yang masih dalam proses pengerjaan.
"Kita harus menyelesaikan pekerjaan yang sedang berjalan. Saat ini proses transisi merupakan fokus terpenting, pemerintah daerah siap melanjutkan pembangunan ini," kata Kuntoro seraya menambahkan bahwa tugas BRR akan selesai pada April 2009.
Lebih lanjut disebutkan bahwa saat ini pengembangan ekonomi dan iklim investasi menjadi prioritas sehingga keamanan dan kedamaian di Aceh perlu dijaga.
Kuntoro juga mengatakan bahwa lebih tiga tahun pasca-tsunami lebih dari 100 ribu rumah telah dibangun, 64 ribu hektare lahan pertanian terpulihkan, 2.000 kilometer jalan diperbaiki atau dibangun, 17 pelabuhan laut, 10 bandara udara, 860 sekolah, dan 600 fasilitas kesehatan dibangun.
Bahkan salah satu hal yang membanggakan adalah rasio fasilitas kesehatan di Aceh sudah dua kali rata-rata nasional.
Namun, lanjut dia, yang paling penting adalah kembalinya harapan masyarakat. Kegiatan ekonomi di perkotaan maupun pedesaan telah menunjukkan geliat yang menggembirakan.
"Kita dapat melihat panen raya di sawah rehabilitasi, pasar ikan penuh tangkapan nelayan, anak-anak bersekolah dan bermain di taman kota serta kehidupan malam hari yang dihiasi oleh restoran atau kedai penjual pulsa telepon genggam," katanya.
Pada acara resepsi terima kasih itu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan sertifikat apresiasi kepada berbagai pihak yang dianggap berjasa dalam membangun kembali Aceh dan Nias.
Turut hadir dalam kesempatan itu antara lain Ibu Negara Ani Yudhoyono, Jurubicara Kepresidenan dan sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu.
Hadir juga dalam acara yang diprakarsai Presiden Yudhoyono itu antara lain para pimpinan LSM lokal, nasional maupun internasional, para duta besar negara sahabat, para atase militer, pimpinan lembaga dwipihak dan multilateral seperti Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia dan Kepala PBB serta lembaga di bawahnya, pimpinan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, perusahaan dan yayasan pelaku rekonstruksi yang seluruhnya berjumlah sekitar 400 orang.
Bencana gempa bumi dan tsunami Aceh dan Nias pada 26 Desember 2004 secara total menghancurkan wilayah yang sangat luas dengan total garis pantai lebih dari 800 km di daratan Aceh.
Bentangan kerusakan garis pantai yang terdapat di Pulau Simeleu, Aceh dan Kepulauan Nias diperkirakan sama dengan jarak Jakarta dan Surabaya atau San Fransisco-San Diego..
Bencana itu juga mengakibatkan ratusan ribu orang meninggal dunia. (*/rsd)