< >

Diversifikasi Pangan Berhasil Jika Didukung Semua Kalangan

Jum'at, 25 Januari 2008 12:55
Kapanlagi.com - Ketua Departemen Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor (IPB), Evy Damayanti mengatakan, diversifikasi pangan di Indonesia hanya akan berhasil jika didukung semua komponen masyarakat.

"Menghadapi keadaan pangan seperti sekarang ini bahwa isu politik harus `terlibat` jika diversifikasi ingin berhasil dilakukan," kata Evy di Jakarta, Jumat.

Dia mengatakan, dari aspek ekonomi jika masyarakat tergantung hanya pada satu komoditas, sudah pasti akan terjadi masalah jika jumlah berkurang ataupun jika harga melambung.

Jika dilihat dari aspek hidup, menurut dia, ketergantungan hanya pada satu jenis pangan justru dikhawatirkan terjadi ketidakcukupan gizi pada masyarakat. Justru sebenarnya dibutuhkan banyak jenis bahan pangan untuk mencukupi berbagai macam jenis gizi.

"Kita butuh protein, tetapi tidak hanya dari kedelai karena masih banyak jenis kacang-kacangan yang dapat dikonsumsi. Kita juga perlu mineral dan vitamin untuk melengkapi gizi dari jenis kacang-kacangan lain," ujar dia.

Dia mengatakan, untuk terigu memang Indonesia sangat tergantung dari impor. Namun demikian, bukan berarti terigu tidak dapat tergantikan dengan tepung lainnya seperti tepung jagung yang dapat diproduksi didalam negeri karena bahan baku yang berlimpah.

"IPB sudah banyak melakukan penelitian terkait dengan diversifikasi pangan. Hasilnya sudah ada, tapi sulit rasanya jika penelitian yang dihasilkan tidak didukung oleh seluruh komponen, terkait dengan pendidikan, teknologi, sosial budaya, hingga promosi," ujar Evy.

Menurut dia, pihaknya sudah pernah melakukan penelitian pada tepung jagung yang dapat menggantikan terigu pada roti dan campuran bakso. Sumber protein nabati lainnya yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai olahan adalah tepung kacang hijau.

"Kacang merah dapat menjadi alternatif protein dengan dijadikan campuran es. Kacang koro yang berprotein tinggi lebih dari 20 persen dapat menggantikan kedelai untuk dijadikan tempe dan tahu," katanya.

Evy juga menjelaskan diversifikasi pangan juga harus memperhatikan kemudahan dalam proses memasaknya. Karena hal tersebut juga sedikit banyak mempengaruhi keberhasilan pelaksanaannya di masyarakat.

Menurut Evy, perubahan kebiasaan dari biasa mengkonsumsi jagung menjadi beras di NTB dan NTT ternyata tidak hanya karena pengenalan terhadap beras, tetapi juga karena kemudahan dalam memasak.

"Sebetulnya mereka bukan ingin makan beras, tapi karena memasak jagung lebih lama dan bahan bakar untuk memasak semakin sulit dicari, maka mereka mulai menanam padi untuk memenuhi kebutuhan pangan anak-anak mereka," ujar Evy.

Evy melihat persoalan pangan ini bukanlah hal yang remeh. Keberhasilan diversifikasi pangan hanya akan berhasil jika semua pihak mau bergerak.

Dia mengatakan jika keseriusan tidak ada maka tidak heran jika penyelesaian masalah pangan yang sedang dicarikan solusinya saat ini akan `kambuh` suatu saat nanti. (kpl/rit)