Ayah Ramli, salah seorang pedagang pengumpul hasil bumi dan komoditi pertanian di Banda Aceh, Senin, menyebutkan, kelangkaan kedelai sudah berlangsung hampir sebulan, sehingga bagi mereka yang masih mempunyai sisa persediaan menjual dengan harga Rp8.000/kg.
Sebelumnya, paling tinggi harga kedelai Rp4.500/kg karena pasokan lancar, baik kedelai impor maupun hasil produksi petani lokal, sehingga harganya bertahan mantap.
Menurut Ayah Ramli, beberapa orang pengusaha tahu dan tempe di Banda Aceh akhir-akhir ini mulai mengurangi produksi karena melonjaknya harga bahan baku kedelai akibat persediaannya terbatas yang dirasakan selama hampir sebulan terakhir ini.
Kedelai yang dihasilkan petani lokal diperkirakan akan memasuki musim panen sekitar akhir Februari 2008, terutama di seputaran wilayah Kabupaten Aceh Besar, sedangkan kedelai dari Aceh Utara, Bireuen dan Kabupaten Pidie baru panen sekitar awal Maret mendatang.
"Saya kira, kalau kedelai yang kembangkan petani lokal mulai berproduksi harganya akan turun kembali," kata Ayah Ramli.
Ruswan Ajo, salah seorang pedagang tahu dan tempe di pasar Ketapang, Banda Aceh, menyebutkan ukuran tahu dan tempe yang dijualnya akhir-akhir semakin kecil dan tipis dari ukuran biasa, namun harga jualnya tetap bertahan, yakni Rp5.000/papan dan Rp1.000/potong.
Mengecil dan tipisnya produk karena harga tahu dan tempe bertahan menyusulnya naiknya harga bahan baku kedelai, dari sebelumnya Rp4.000 kini naik menjadi Rp8.000/kg.
Bukan hanya kedelai yang menjadi bahan baku utama tahu dan tempe yang mengalami kenaikan, tapi hampir semua bahan kebutuhan pokok masyarakat ikut berpengaruh, seperti minyak goreng curah dari Rp9.000 menjadi Rp11.000/kg.
Kenaikan mencolok terjadi pada minyak goreng curah dan tepung terigu, sedangkan lainnya, seperti beras dan gula pasir masih dalam batas wajar karena persediaannya cukup banyak karena lancarnya pasokan dari sentra-sentra produksi. (*/lin)