"Pembangunan pertanian dan peternakan cukup maju, banyak bantuan yang diberikan petani dan karena sistem terorganisir dengan baik maka bantuan itu terasa manfaatnya," kata Ventje Waworuntu, salah seorang petani di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut), Senin di Manado.
Bantuan tersebut diikuti intensitas petugas penyuluh pertanian (PPL) benar-benar turun ke lapangan guna memberikan petunjuk kepada petani supaya melaksanakan budidaya yang benar, lanjut Ventje.
Perhatian bukan hanya saat petani mulai menanam, tetapi saat petani memetik hasil pun diukur bagaimana tingkat produksi pertanian apakah sudah memenuhi standar yang ditetapkan waktu itu.
"Sarana produksi pertanian (saprodi) termasuk pupuk tersedia secara mudah dan murah, maka tak heran bila petani mendapatkan untung, terbukti banyak yang dapat menyekolahkan anak mereka hanya dari hasil bertani," kata Ventje.
Wem Paat, petani di Minahasa lainnya, mengatakan, program intensifikasi pertanian yang dirasakan saat Presiden Soeharto sangat membantu petani sehingga termotivasi menggeluti usaha pertanian.
"Berbagai jenis bibit unggul padi dan jagung serta tanaman pertanian lainnya yang diluncurkan saat itu terus memotivasi petani sehingga terus berupaya meningkatkan hasil pertanian," kata Wem.
Motivasi yang tinggi menjadi petani didukung oleh kemudahan memperoleh kredit pertanian, saat itu bank masih percaya kepada petani, sehingga bila kesulitan modal dapat memperoleh dengan mudah, sepanjang usahanya benar-benar layak.
Para petani minta kepada pemerintah sekarang supaya konsep pertanian yang sudah bagus tersebut digali kembali, sambil melakukan perbaikan menyesuaikan dengan kondisi saat ini, sehingga Indonesia mampu mencukupi kebutuhan masyarakat dari hasil produksi petani dalam negeri. (kpl/lin)