"Sesuai target RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Panjang.red) 2004 - 2009 seharusnya layanan air minum perpipaan di perkotaan dan perdesaan masing-masing 66 persen dan 30 persen, tetapi kenyataannya sampai saat ini belum tercapai diakibatkan cepatnya pertumbuhan penduduk," kata Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto di Jakarta, Selasa.
Djoko Kirmanto menjelaskan hal itu kepada wartawan usai meresmikan empat unit Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) bantuan dari Departemen PU di Provinsi Banten serta penggunaan gedung PDAM Mandiri di Kota Cilegon.
Dikatakan bahwa di sisi PDAM sendiri banyak yang kondisinya tidak sehat, tingkat kebocoran pipa yang tinggi dan masih terkonsentrasi layanan perpipaan di perkotaan.
Tantangan lainnya, kata dia, adalah belum berkembangnya potensi pembiayaan yang berasal dari masyarakat dan swasta serta banyaknya pemekaran wilayah administrasi Kabupaten/Kota yang sering diikuti oleh pembentukan operator penyediaan air minum baru yang tidak ekonomis.
Disamping itu masih banyak masyarakat yang menganggap bahwa air adalah barang sosial, sehingga kesadaran penggunaan air secara efisien masih rendah. Padahal, menurut Menteri PU untuk memperoleh air minum yang layak memerlukan biaya pengolahan yang mahal dan tidak mudah.
Sementara itu Direktur Utama PDAM Mandiri, Agus Hikmat mengatakan bahwa sejak beroperasi tahun 2002, saat ini PDAM Mandiri telah mampu melayani sebanyak 4.000 pelanggan sambungan langsung.
Selain itu PDAM Mandiri juga memasok kebutuhan air bersih bagi warga yang kesulitan air di musim kemarau di daerah pegunungan dengan menggunakan mobil-mobil tangki.
Kedepan tambah Agus Hikmat, PDAM Mandiri tidak hanya sebagai BUMD yang berperan sosial melayani kebutuhan air bersih masyarakat namun juga bisa menghasilkan deviden (untung) yang bisa dinikmati publik. (*/rsd)