< >

Investasi AS di Sepak Bola Inggris Berhasil dan Menguntungkan

Rabu, 30 Januari 2008 17:17
Kapanlagi.com - Setengah dari 20 klub Liga Utama Inggris kini dimiliki oleh investor asing setelah sebuah kelompok investasi dari Amerika Serikat (AS) melengkapi pembelian tim papan bawah Derby County dengan harga US$100 juta (sekitar Rp930 miliar).

Skuad sepak bola yang memiliki brand global dan didukung dana besar televisi serta potensi pasar yang luas sebelumnya juga telah mendorong warga negara AS membeli Manchester United, Aston Villa dan Liverpool.

"Tujuan jangka panjang adalah memantapkan brand Derby County di seluruh dunia melalui kerja sama dengan tim olahraga di AS, Timur jauh dan benua lainnya," kata ketua Derby County Andy Pearson.

"Tujuan jangka pendeknya adalah terus membangun infrastruktur klub di Pride Park," tambahnya.

Tim-tim Liga Utama Inggris akan mendapat lebih dari US$5,4 miliar (sekitar Rp50,24 triliun) hingga 2010 dari perjanjian kerja sama dengan televisi. Meski terdegradasi, nasib yang sepertinya sulit dihindari Derby County, mereka akan tetap mendapat lebih dari US$20 juta (sekitar Rp186 miliar).

Penghasilan dari televisi sebesar itu hanya dikalahkan oleh liga "sepak bola ala AS" (NFL) yang diikuti 32 tim, tetapi peluang global NFL sangat terbatas dibandingkan "sepak bola sebenarnya".

Ditambah terus bermunculannya stadion baru nan modern, termasuk bisnis yang berkembang di sekitarnya, serta para penggemar fanatik yang telah ada sejak abad ke-19, bisa dimengerti mengapa pebisnis sangat tertarik kepada klub sepak bola.

Pembelian Liverpool oleh George Gillet --yang juga memiliki tim hoki es Montreal Canadiens-- dan Tom Hicks --pemilik tim hoki es Dallas Stars dan tim bisbol Texas Rangers-- tahun lalu memunculkan kekhawatiran tersingkirnya stadion bersejarah Anfield.

"Tom dan saya agak sedih karena sebagian besar orang menganggap segalanya adalah karena uang," kata Gillet saat mengumumkan pembelian itu.

"Jika anda tanya kata apa yang paling tepat mengenai franchise ini, saya akan mengatakan penghormatan --penghormatan atas kemenangan, gairah, tradisi, warisan luar biasa dari klub ini," tuturnya.

Penghormatan kepada warisan itu menyusul terjadinya insiden pembakaran boneka dan spanduk bertuliskan "Yankee Go Home" pada 2005 oleh penggemar Manchester United yang ditujukan kepada Malcolm Glazer setelah ia membeli tim tenar itu dengan harga US$1,49 miliar (sekitar Rp13,86 triliun dengan kurs saat ini).

United melakukan perjanjian pemasaran dengan tim bisbol New York Yankees yang membantu masing-masing untuk mengembangkan brand mereka ke wilayah baru.

Kepada USA Today, Hicks pernah berkata ketika ia membeli Liverpool bahwa kejayaan klub Liga Utama Inggris bisa membawa kepada keuntungan potensial tak terbilang dari seluruh dunia.

"Kami sangat ingin membangun brand, khususnya di Asia, tetapi juga di Amerika Utara dan Amerika Selatan, sebagaimana di Eropa," jelasnya.

Randy Lerner, pemilik tim NFL Cleveland Browns, membeli Aston Villa pada 2006 dengan harga US$118 juta (sekitar Rp1,09 triliun dengan kurs saat ini).

Stan Kroenke, pemilik tim hoki es Colorado Avalanche dan tim bola basket Denver Nuggets, tahun lalu membeli 12% saham di Arsenal.

Pemilik asing dari klub Liga Utama Inggris lainnya termasuk raja minyak Rusia Roman Abramovich (Chelsea), miliuner Mesir Mohamed al-Fayed (Fulham), dan kelompok investor dari Eslandia (West Ham United).

Mantan Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra membeli Manchester City, Alexander Gaydamak --anak seorang miliuner Rusia-- memiliki Portsmouth, dan pebisnis Hongkong Carson Yeung tertarik untuk mengambil alih Birmingham pada akhir musim ini. (*/cax)