< >

Jangan Nilai Soeharto Dengan Referensi Masa Sekarang

Rabu, 30 Januari 2008 19:45
Kapanlagi.com - Peneliti dan pengamat politik LIPI, Dr Hermawan Sulistio, di Jakarta, Rabu, mengatakan jangan terjebak menilai mantan Presiden Soeharto dengan referensi masa sekarang.

Ia mengatakan itu sehubungan dengan pernyataan salah satu Ketua DPP Partai Golkar, Theo L Sambuaga yang menyatakan, Soeharto bukanlah tipe pemimpin otoriter, sekaligus merespon polemik pemberian gelar pahlawan kepada mantan penguasa Orde Baru (Orba) tersebut sebagaimana diusulkan oleh Ketua Fraksi Partai Golkar di DPR RI, Priyo Budi Santoso.

"Menilai masa lampau tidak bisa dilakukan dengan referensi masa sekarang. Itu namanya anakronisme. Sebab, masa lalu harus ditempatkan pada konteks waktu itu. Itu tanggapan pertama saya," ujar Hermawan Sulistio yang akrab disapa rekan-rekannya dengan Mr QQ.

Tanggapan kedua, menurut Mr QQ, Soeharto sebagai penguasa Orde Baru, dalam eksistensinya mengalami beberapa tahap berkiprah.

"Yakni, antara tahun 1965-1967, perjuangan meraih kekuasaan. Kemudian, 1967-1971, melakukan konsolidasi kekuasaan. Lalu 1971-1982, mencapai puncak kepresidenan. Dan pada 1982-1992 menerapkan stabilitas kekuasaannya, diikuti tahap pembusukan internal pada 1992-1997, serta berakhir dengan bencana kekuasaan pada tahapan 1997-1998," kata Mr QQ.

Melihat pada tahapan perkembangan itu, menurut dia, akan banyak makna yang bisa dipetik, lalu memberikan sikap atau tanggapan secara proporsional, objektif serta adil.

"Tetapi yang jadi masalah, ingatan kolektif kita sangat pendek. Yang ada dalam amatan saya, baru 10 tahun yang lalu terbukti yang dibangun Soeharto adalah bangunan kertas. Lihat saja ada antre Sembako dan runtuhnya rezim ekonomi yang terjadi pada masa Soeharto, sebelum akhirnya terjadi reformasi," kata Mr QQ. (*/lpk)

KOMENTAR PEMBACA

andre_antroboys (31-01-2008 14:50:01)
jika anda-anda semua di posisi beliau apakh anda-anda smua akan lakukan kebijakan apa????????? coba jelaskan secara tarperinci..... itu butuh proses dan kalau ada orng yang bicara banyak coba jadilah seperti padi yg makin berisi makin merunduk....bukan makin tinggi yg sekali di tiup angin maka patah.......knapa pada saat beliau uda gak ada smua orng mulai bersilat kata - kata dng bhasa politik yg di kumandangkan begitu bagus dan penuh kemanusiaan......gak usah bawa2 nama masyarakat apa yang anda2 buat utk masyarakat????????