Kerusakan panenan dapat menyebabkan kekurangan makanan dan kemusnahan kehidupan di antara warga termiskin dunia, para pengarang memperingatkan.
Dan karena biasanya investasi pertanian besar memakan waktu 15 hingga 30 tahun sampai benar-benar terwujud, pekerjaan harus segera dimulai untuk membantu para petani yang eksis meningkatkan hasil panenan dan mengganti tanaman pangan, ungkap studi yang dipublikasikan dalam majalah Sains.
Para periset memakai 20 model perubahan iklim yang berbeda untuk menentukan dampak pemanasan global yang paling mungkin terhadap pertanian di 12 wilayah tempat tinggal sebagian besar masyarakat dunia yang kekurangan gizi yang meliputi kebanyakan Asia, Afrika sub-Sahara, Karibia dan Amerika Tengah dan Selatan.
Mereka menemukan bahwa Afrika bagian selatan dapat kehilangan lebih dari 30 persen pangan utamanya maizena, sedangkan produksi pangan regional Asia selatan termasuk biji-bijian, maizena dan beras diproyeksikan akan turun 10 persen.
Gambaran itu agak kurang jelas di wilayah lain seperti wilayah Afrika Selatan, di mana tidak jelas bagaimana pemanasan global akan mempengaruhi iklim lokal.
Sejumlah kawasan berkembang, seperti wilayah penanam gandum beriklim sedang seperti China, sebenarnya bisa mengambil keuntungan dalam jangka pendek dari perubahan iklim, ungkap studi tersebut.
Sementara perubahan yang secara relatif tidak mahal seperti mengganti tanaman pangan atau mengubah musim tanam dapat memangkas kerugian, "keuntungan terbesar kemungkinan akan dihasilkan dari langkah-langkah lebih mahal, termasuk pengembangan varietas tanaman pangan baru dan perluasan irigasi," tulis para pengarang itu. (*/lin)