< >

Partai Golkar Jangan Hanya Tonjolkan Kegemaran Memburu Posisi

Sabtu, 02 Februari 2008 13:01
Kapanlagi.com - Pengamat politik dan ekonomi yang juga penasihat ahli pimpinan Dewan Perwakilan Daerah RI, Dr Iwan Gunawan, di Jakarta, Jumat, mengharapkan Partai Golkar semakin berani mengedepankan platformnya yang sebenarnya, terutama menyongsong tahun 2009, sehingga tidak terkesan di publik hanya menonjolkan kegemarannya memburu posisi.

"Bagi saya, yang lebih penting bagi Partai Golkar di 2009, adalah, membuktikan bahwa ia bukan lagi status quo dan berani menonjolkan platformnya sendiri. Soalnya, pengalaman di Pemilu 2004 dan banyak Pilkada belakangan ini, calon-calon dari Partai Golkar ada di mana-mana. Jadi kesannya, platformnya adalah yang penting kebagian posisi," ungkapnya.

Iwan Gunawan mengemukakan itu, mengomentari terpilihnya Ketua Umum DPP Partai Golkar, HM Jusuf Kalla (Wakil Presiden RI) sebagai Presiden `Centrist Democrat International` (CDI) atau Parpol Moderat Tengah se-Asia Pasifik, dalam suatu forum dihadiri 14 pimpinan partai negara-negara anggota, di Jakarta, Sabtu (akhir pekan lalu).

"Harus diakui, Partai Golkar itu partai besar. Tetapi, sekarang sudah waktunya dia ambil sikap. Misalnya dengan berani pilih satu calon (Presiden RI pada Pemilu 2009 mendatang) dan fokus pada platform politik yang jelas. Misalnya pro market atau pro sosialis. Moderat saja tidak cukup jadi platform, karena sama dengan banyak partai lain," ujarnya.

Dialog Antar Ideologi

Iwan Gunawan juga secara tersirat menyatakan cukup bangga dengan kepemimpinan Partai Golkar dalam CDI Asia Pasific, karena bisa ikut memberi warna-warni (kepentingan) Indonesia di kawasan ini.

"CDI Asia Pasific itu sendiri nampaknya memang didirikan tahun 2006 oleh partai-partai moderat (kristen, islam dan garis tengah), termasuk Partai Golkar dari Indonesia, yang sama-sama ingin mempromosikan dialog antar ideologi," paparnya.

Jika partai-partai anggotanya bisa saling belajar dari pengalaman yang lain untuk mencapai tujuannya, demikian Iwan Gunawan, ini akan sangat baik.

"Namun, beberapa anggotanya seperti Thaik Rak Thai (Thailan), Funcinpec (Kamboja) dan Partai Golkar sendiri sebetulnya masing-masing punya sejarah yang kurang baik di negaranya," katanya mengingatkan.

Jadi yang lebih penting, terutama bagi Partai Golkar, perlu membuktikan eksistensi, juga kepemimpinannya sesuai harapan masyarakat baru di kawasan ini, khususnya di Indonesia.

"Terutama menyongsong tahun 2009, maka sebagaimana saya utarakan di atas, Partai Golkar harus membuktikan, bahwa ia bukan lagi status quo dan berani menonjolkan platformnya sendiri," tandasnya lagi.

Iwan Gunawan mengulangi pengamatannya pada Pemilu tahun 2004 dan banyak Pilkada di seluruh pelosok tanah air, calon-calon dari Partai Golkar ada di mana-mana.

"Jadi, kesannya platformnya adalah yang penting kebagian posisi. Nah, sekarang sudah waktunya ambil sikap. Harus berani pilih satu calon (presiden atau kepala daerah) dan fokus pada platform politik yang jelas. Pro market atau pro sosialis," tegas Iwan Gunawan meyakinkan.

Harus Bisa Memanfaatkan

Sebelumnya, ditemui terpisah, peneliti dan pakar politik LIPI, Dr Hermawan Sulistio, mengharapkan, kepemimpinan Jusuf Kalla di CDI Asia Pasific, harus bisa dimanfaatkan sebesar-besarnya, baik oleh partai maupun negara.

"Memang, pada level internasional seperti itu, jabatan memang hanya untuk image, bukan kekuasaan riil. Tapi, kalau Jusuf Kalla bisa memanfaatkannya, dapat dipakai untuk menarik grant negara-negara besar dan investor dari luar," kata peneliti dan pakar politik LIPI, Dr Hermawan Sulistio, di Jakarta, Selasa.

Ditanya, apakah terpilihnya Jusuf Kalla sebagai Presiden Parpol Moderat Tengah se-Asia Pasifik karena masih kuatnya peran Partai Golkar sebagai partai moderat terbesar di kawasan ini, Hermawan Sulistio tidak melihatnya demikian.

"Sebetulnya tidak ada dampaknya karena itu. Hanya berdampak pada citra moderat di dunia internasional," ujar mr qq, demikian panggilan akrab Hermawan Sulistio di lingkungan kerabatnya.

Mengenai posisi tersebut bakal membawa pengaruh bagi peran RI di kawasan ini, atau berdampak pada eksistensi Partai Golkar pada Pemilu 2009, Hermawan Sulistio juga memberi jawaban lain.

"Seperti saya katakan tadi, pada level internasional seperti itu, jabatan hanya untuk image, bukan kekuasaan riil. Tetapi, jika Jusuf Kalla bisa memanfaatkan posisi dan peranannya itu, dapat dipakai secara optimal untuk menarik `grant` negara-negara besar dan investor dari luar," katanya.

Secara domestik, mr qq memperkirakan, tidak ada pengaruh signifikan posisi Partai Golkar dengan jadi pemimpin Parpol Moderat Tengah se-Asia Pasifik tersebut berkaitan dengan menghadapi pesta demokrasi Indonesia per 2009 mendatang.

Bersatu Dalam Kemajemukan

Sebagaimana diberitakan sejumlah media internasional, konsolidasi Parpol Moderat se-Asia Pasifik itu berlangsung di sebuah hotel di Jakarta Selatan, Sabtu (26/1) akhir pekan lalu.

Ketika itu, Partai Golkar urun rembuk bersama 14 Parpol berhaluan moderat dalam pertemuan yang bertajuk `Centrist Democrat International` (CDI) se-Asia Pasifik.

Di saat itulah Jusuf Kalla terpilih sebagai Presiden CDI Asia Pasific, menggantikan Jose de Venecia dari Filipina yang masih menjabat Ketua DPR di sana.

Pertemuan yang dihadiri 14 Parpol dari 14 negara, antara lain dari Meksiko, juga Belgia, termasuk dari kawasan Asia Tenggara seperti Malaysia serta Thailand tersebut berakhir dengan penandatanganan `Deklarasi Jakarta`.

Deklarasi berisi 17 poin komitmen Parpol berhaluan sentris atau moderat tersebut, antara lain menyangkut upaya menjaga stabilitas, bersatu dalam kemajemukan, kuat dalam pemerintahan, mendukung dialog antar agama, menentang terorisme dan saling bekerja sama. (*/cax)