Kondisi berbeda justru dialami sejumlah pengusaha tahu/tempe dan susu di Kabupaten Kudus, yang sebagian besar mengurangi tingkat produksinya antara 30% hingga 45%.
Menurut pemilik pabrik kecap, di Desa Golantepus, Kecamatan Mejobo, Madi, di Kudus, Kamis, ketergantungan sejumlah pengusaha tahu/tempe dan susu terhadap bahan baku kedelai impor terlalu tinggi.
"Sehingga ketika harga melonjak tajam, mereka tidak bisa berbuat banyak," katanya. Berbeda jika mereka menggunakan bahan baku lokal, tingkat produksinya tentu tidak terlalu berpengaruh.
"Hanya saja untuk membuat sejumlah pengusaha mau menggunakan bahan baku lokal tidak mudah, karena dianggap berkualitas rendah dan pasokan terbatas," katanya.
Ia mengakui, untuk mendapatkan kedelai lokal harus mendatangkan dari Bojonegoro dan Purwodadi. "Tidak ada kesulitan untuk mendapatkan kedelai lokal, karena saya mampu mengumpulkan hingga 10 ton," katanya.
Menurut dia, untuk campuran bahan kecap justru lebih berkualitas menggunakan kedelai lokal, karena kecapnya lebih gurih.
Meski terjadi kenaikan harga kedelai, permintaan kecap masih tetap stabil. Sehingga tingkat produksinya juga masih tetap seperti semula, berkisar antara 7,5 ton hingga 10 ton per hari.
Harga kecap yang ditawarkan juga masih tetap, yakni Rp4.000 per botol. Sedangkan permintaan dari daerah penjualan, seperti lokal Kudus, Pati, Jepara, dan Rembang juga masih tetap stabil. (*/bun)