< >

Perairan NTT Rawan Bagi Pelayaran

Minggu, 10 Februari 2008 17:24
Kapanlagi.com - Wilayah perairan Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam sepekan ke depan cukup rawan bagi semua armada pelayaran karena adanya pusaran angin di tenggara Pulau Timor yang memicu terjadinya angin kencang dan gelombang laut setinggi hingga lima meter.

Kepala Badan Meteorologi Stasiun El Tari Kupang, Albertus Kusbagio yang dihubungi di Kupang, Minggu, menjelaskan, pusaran angin tersebut terjadi karena adanya pertumbuhan pusat tekanan rendah pada kisaran sekitar 1.000 Milibar (Mb).

Ia menambahkan, mulai dari selatan Pulau Jawa hingga NTT merupakan daerah konvergensi (pusat pertumbuhan awan) dengan kecepatan angin berkisar antara 35-55 km/jam.

Dengan demikian, tambahnya, wilayah sepanjang selatan Pulau Jawa hingga NTT tidak hanya diguyur hujan lebat tetapi disertai pula dengan angin kencang yang memicu pertumbuhan gelombang laut hingga mencapai lima meter.

Berdasarkan hasil foto citra satelit, ujarnya, pusat tekanan rendah yang mencapai 1.000 Mb itu masih bersifat stasioner sehingga masih terus dipantau perkembangannya, karena tidak tertutup kemungkinan akan bisa memunculkan badai tropis.

"Jika pusat tekanan rendah sampai akhirnya memunculkan badai maka keadaan gelombang laut yang disertai angin kencang akan bertambah lama, karena pergerakan gelombang laut tidak hanya disebabkan oleh angin kencang tetapi juga dari lamanya angin bertiup," katanya.

Secara global, lanjutnya, saat ini sedang terjadi badai angin kencang di Laut Cina selatan pada kisaran antara 30-40 knot/jam sehingga ikut memicu pergerakan angin dari utara menuju ke selatan yang kemudian melahirkan pusaran angin di tenggara Pulau Timor.

Ia menambahkan, wilayah-wilayah yang berada di bawah ekuator akan terkena dampak dari badai tersebut, terutama dari selatan Pulau Jawa, Kalimantan sampai ke NTT.

Tinggi gelombang di wilayah perairan utara Pulau Flores diperkirakan mencapai lebih dari lima meter karena mendapat tekanan langsung pergerakan angin dari selatan Pulau Jawa, sedang tinggi gelombang di Laut Sawu yang menjadi pusat lintasan penyeberangan di NTT, berkisar antara 2-3,5 meter, namun pada situasi tertentu bisa mencapai lebih dari itu.

Pihak Administrator Pelabuhan (Adpel) Tenau Kupang juga sudah mengimbau semua armada pelayaran untuk menunda keberangkatannya jika keadaan cuaca dan gelombang laut tidak bersahabat untuk dilalui.

"Kami sudah memberitahukan tentang peringatan tersebut agar mereka lebih waspada untuk berlayar. Jika keadaan cuaca tidak memungkinkan, kami sarankan untuk tidak berlayar atau menunda keberangkatan," kata Samsir Siregar, seorang pejabat di Adpel Tenau Kupang.

Pihak PT (Persero) Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Cabang Kupang juga 'memarkir' semua armada pelayaran kapal feri di Pelabuhan Penyeberangan Bolok Kupang sejak Kamis (7/2), karena keadaan gelombang laut yang tidak bersahabat.

"Penghentian operasi ini sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Jika keadaan sudah normal baru kami akan operasi kembali seperti biasa untuk melayani semua rute penyeberangan di NTT," kata Kepala PT (Persero) ASDP Cabang Kupang, La Unru, yang dihubungi secara terpisah. (*/bun)