< >

Seorang Pejabat Pentagon Dituduh Lakukan Kegiatan Mata-mata Untuk China

Selasa, 12 Februari 2008 23:53
Kapanlagi.com - Seorang pejabat Pentagon, seorang mantan teknisi Boeing dan dua lainnya, Senin waktu setempat (Selasa (WIB) dituduh melakukan kegiatan mata-mata untuk China menyangkut rahasia-rahasia angkasa luar dan militer yang peka termasuk pesawat ruang angkasa.

Keempat orang itu terlibat dua komplotan spionase, yang menurut Departemen Kehakiman AS menimbulkan "bahaya besar" bagi keamanan nasional.

Pejabat Pentagon Gregg William Bergersen, Yu Xin Kang yang warga China dan Tai Shen Kua warga AS kelahiran Taiwan dituduh memberikan informasi rahasia kepada China, sebagian besar menyangkut penjualan peralatan militer AS kepada Taiwan, kata para pejabat Departemen Kehakiman.

Bergersen, 51 tahun, adalah analis kebijakan sistem di Badan Kerjasama Keamanan Pertahanan Pentagon yang melaksanakan program penjualan peralatan militer kepada luar negeri Departemen Pertahanan AS.

Dalam kasus lain, mentan insinyur Boeing Dongfan "Greg" Chung, seorang warga AS kelahiran China, dituduh mencuri dan menyerahkan rahasia-rahasia dagang juga kepada Beijing termasuk pesawat ruang angkasa yang digunakan untuk misi-misi penerbangan ruang angkasa manusia AS.

Selain dari itu, Chung, 72 tahun dituduh melakukan spionase ekonomi yang menyangkut pesawat transpor militer C-17 dan roket Delta IV-- yang dirancang untuk meluncurkan kendaraan ruang angkasa berawak-- sementara ia bekerja di Boeing dan, sebelum itu, di kontraktor pertahanan AS Rockwell International.

Kedua kasus yang diselidiki FBI memiliki tujuan sama: "mendapatkan rahasia-rahasia militer negara kita," kata Asisten Jaksa Agung AS Kenneth Wainstein kepada wartawan.

"Jaringan-jaringan spionase seperti itu merupakan satu bahaya gawat bagi keamanan nasional kita dan bagi posisi ekonomi kita di dunia," katanya.

Badan rahasia luar negeri China termasuk di antara "paling agresif" dalam usaha mendapatkan teknologi penting militer AS dan informasi, kata Direktur Intelijen Internasional Michael McConnel belum lama ini.

Keempat orang itu ditahan Senin dan, menurut para pejabat Departemen Kehakiman, setidaknya Bergersen dan Kuo telah tampil pada sidang awal pengadilan di Alexandria, Virginia, selatan Washington.

Para pengacara mereka tidak segera bisa dihubungi untuk diminta komentar.

Kuo, 58 tahun dituduh melakukan kerja sama atas arahan seorang pejabat China yang tidak disebutkan namanya untuk memperoleh informasi pertahanan rahasia AS dari Bergersen, yang menangani izin keamanan paling rahasia" di Pentagon.

Kang, 33 tahun, yang adalah seorang penduduk tetap AS, yang ditunjuk sebagai "penyalur informasi" antara Kuo dan pejabat China itu.

Kuo dan Kang, keduanya dari New Orleans, Louisiana, bisa menghadapi ancaman hukuman penjara seumur hidup jika tuduhan terlibat dalam persekongkolan kejahatan memberikan informasi pertahanan nasional kepada sebuah negara luar negeri itu terbukti.

Bergersen, yang tinggal di Alexandria, Virginia, dituduh memberikan informasi pertahanan nasional kepada orang-orang yang tidak berwenang, yang dapat diancam hukuman 10 tahun penjara.

Chung, 72 tahun, yang tinggal di Orange, Kalifornia, dituduh melakukan kegiatan spionase ekonomi, yang kabarnya menerima arahan sejak awal tahun 1979 dari industri penerbangan China meminta dia mengumpulkan informasi khusus.

Chung dituduh dengan delapan kasus spionase ekonomi -- masing-masing dari kasus itu dapat diancam hukuman 15 tahun penjara dan denda US$500.000 -- dan tuduhan lain yang terkait.

Departemen Kehakiman mengatakan kasus Chung ada kaitannya dengan penyelidikan mereka atas seorang penduduk Kalifornia dan insinyur kelahiran China Chi Mak dan para anggota keluarganya, yang tahun lalu dihukum karena menyerahkan artikel-artikel pertahanan AS kepada China.

Chi Mak, 66 tahun , yang bekerja di sebuah perusahaan AS dengan beberapa kontrak Angkatan Laut menurut rencana akan divonis 24 Maret.

"Chung dituduh mencuri teknologi penting yang telah dikembangkan selama beberapa tahun oleh para insinyur yang telah bersumpah untuk melindungi produk kerja mereka karena hal itu merupakan rahasia-rahasia dagang," kata Jaksa Angung Thomas O'Brien.

"Memberikan informasi ini kepada masyarakat luar seperti China akan membahayakan keamanan nasional kita," katanya. (*/lpk)