"Sejumlah BUMN industri gula sudah dalam proses (pelaksanaan revitalisasi) dan mencairkan kreditnya," kata Dirjen Industri Agro dan Kimia (IAK) Depperin, Benny Wahyudi, di Jakarta, Rabu.
Ia mengatakan, pendanaan revitalisasi PG sangat tergantung pada penilaian lembaga pendanaan terhadap perusahaan industri gula tersebut.
Benny menekankan bahwa dalam revitalisasi industri gula nasional pemerintah menghendaki pemanfaatan seoptimal mungkin produk dan jasa dalam negeri, baik dalam rekayasa pembangunan PG, mesin, maupun pendanaannya.
"Revitalisasi ini kebanyakan dilakukan BUMN, jadi keterlibatan asing dibatasi, meskipun tidak menutup kemungkinan asing terlibat," katanya.
Ditambahkan Direktur Industri Makanan Yelita Basri, ada 11 industri gula yang akan melakukan revitalisasi, yakni 10 BUMN dan satu swasta yaitu PT Kebon Agung. Sedangkan BUMN yang melakukan revitalisasi adalah PT Perkebunan Nusantara (PTPN) II sebanyak dua PG, PTPN VII (dua PG), PTPN IX (empat PG), PTPN X (empat PG), PTPN X (empat PG), PTPN XI (dua PG), PTPN XIV (tiga PG), PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) I sebanyak tiga PG, RNI II sebanyak lima PG, PT Madu Baru, dan PT Industri Gula Nusantara (IGN).
"Di luar itu akan ada pembangunan PG baru, yaitu PG Merah Putih yang akan membuat tiga PG," katanya.
Rencananya, tiga PG tersebut akan dibangun di Banyuwangi (Jawa Timur), Belu (Nusa Tenggara Timur), dan Garut Selatan (Jawa Barat).
Dengan revitalisasi dan pembangunan pabrik gula baru tersebut, pemerintah mengharapkan adanya tambahan produksi gula sebanyak satu juta ton tebu per hari (TCD).
Lebih jauh Yelita menjelaskan secara detail kebutuhan dana revitalisasi PG mencapai sekitar Rp8,7 triliun yang terdiri dari kebutuhan perluasan lahan Rp887,2 miliar, rehabilitasi dan peningkatan kapasitas Rp3,25triliun, dan pembangunan PG baru Rp4,55 triliun.
Namun sampai Desember 2007 total kebutuhan dana yang baru mencapai sekitar Rp499,9 miliar, yang dikucurkan perbankan nasional seperti BRI dan BNI. (*/rsd)