Dirut PT BEI, Erry Firmansyah, di sela sosialisasi "Pengembangan Pasar Modal di Jawa Timur", di Surabaya, Jumat, mengakui, tekad itu didasari bahwa Surabaya selama ini sebagai salah satu basis utama penggerak perekonomian di wilayah Intim.
Sedangkan untuk mewujudkan tekad tersebut BEI yang saat ini menempati ruang di salah satu gedung di Jalan Pemuda Surabaya, akan dipindahkan ke tempat yang lebih strategis dan nyaman.
Bahkan, pojok pasar modal yang saat ini sudah dikembangkan di Malang, akan ditambah di Jember. Pojok pasar modal itu diharapkan akan terus berkembang di daerah-daerah lain.
Lebih lanjut Erry yang didampingi Dirut PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Ananta Wiyogo, mengemukakan, dengan dikembangkannya Surabaya sebagai sentra pasar modal, maka potensi pasar di wilayah Intim dapat tergarap secara maksimal.
Menurut dia, BEI pada 2008 menargetkan ada penambahan 20-30 emiten baru. "Kalau dari target itu 10 persennya dari Jatim atau Intim, itu sudah bagus," katanya.
PT BEI merupakan penggabungan antara PT Bursa Efek Surabaya (BES) dan PT Bursa Efek Jakarta (BEJ). Penggabungan mulai efektif pada 30 Nopember 2007 dan memulai operasional pertama pada 3 Desember 2007.
Bursa itu saat ini memfasilitasi perdagangan saham (equity), surat utang (obligasi) dan perdagangan derivatif.
Dengan penggabungan tersebut kapitalisasi pasar BEI kini mencapai Rp2.538 triliun yang terdiri Rp1.982 triliun kapitalisasi saham, Rp79,065 triliun obligasi korporasi dan Rp477 triliun Surat Utang Negara (SUN).
Hadirnya bursa efek tunggal itu diharapkan akan meningkatkan efisiensi industri pasar modal Indonesia dan menambah daya tarik masyarakat untuk berinvestasi.
Sementara itu, Dirut PT KSEI Ananta Wiyogo menambahkan bahwa lembaga yang dimpimpinnya saat ini telah meluncurkan produk "investor area" yakni sebuah layanan yang memungkinkan investor melihat surat-surat berharganya setiap saat.
Dengan adanya layanan tersebut diharapkan lebih memberikan kenyamanan bagi pemegang surat berharga, katanya. (kpl/rit)