Bencana ini terjadi sebagai dampak dari hujan deras disertai angin kencang melanda wilayah itu selama lebih dari dua pekan terakhir, kata Wakil Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, di Kupang, Jumat.
Dia mengemukakan hal itu menjawab wartawan usai menghadiri acara penyerahan surat pemberitahuan dari DPRD NTT kepada Gubernur NTT, Piet A. Tallo, SH, tentang akan berakhirnya masa jabatan, sekaligus mendanai dimulainya proses Pemilu Gubernur NTT.
"Kami telah menerima laporan lisan dari daerah-daerah dan laporan media massa tentang berbagai bencana alam di daerah ini. Hampir semua kabupaten/kota di NTT dilanda bencana alam," katanya.
Namun belum dapat diketahui persis berapa kerugian yang timbul sebagai dampak dari bencana tersebut, karena belum ada laporan resmi dari daerah-daerah kepada pemerintah provinsi NTT.
Pemerintah kata dia, terus melakukan koordinasi dengan daerah akan mengambil langkah-langkah penanganan sesegera mungkin, dan yang paling penting adalah menghindari jatuhnya korban jiwa.
"Kami telah melakukan koordinasi, dan telah meminta pula daerah-daerah untuk mengaktifkan Posko Saltak PBP di daerah selama 24 jam. Ini untuk memantau setiap kejadian di daerah masing-masing agar segera mengambil tindakan," katanya.
Dia mengatakan, belum ada kejadian bencana alam yang luar biasa dan perlu mendapat penanganan secara nasional. Peristiwa-peristiwa yang terjadi saat ini masih bisa ditangani oleh daerah.
Bencana banjir di Ende dan Sumba Timur yang mengakibatkan jembatan putus, sekolah dan rumah penduduk rusak misalnya, saat ini sedang ditangani oleh pemerintah daerah. Begitupun bencana angin puting beliung yang merobohkan rumah di Kabupaten Belu, dan terjangan gelombang laut ke pemukiman penduduk di Kabupaten Sikka, Maumere.
Khusus yang berkaitan dengan kerusakan dermaga di Kabupaten Rote Ndao, dia mengatakan telah meminta Dinas Perhubungan NTT untuk menurunkan tim ke pulau Rote. (*/cax)