Kepala Dinas Pertanian NTB, H. Mashur usai menghadiri penyerahan dana Pemilihan Umum Kepala Daerah kepada KPU NTB di Mataram, Senin, menjelaskan, NTB dipilih sebagai sentra benih nasional karena areal kedelai di daerah ini cukup luas mencapai 18.000 hektar.
Penanaman kedelai di daerah itu dilakukan dua kali.
Menurut Mashur, petani akan siap menyediakan benih untuk kebutuhan nasional asalkan harganya tidak kurang dari harga kedelai konsumsi.
Tetapi jika harganya lebih murah dari harga kedelai yang dikonsumsi, maka petani akan menjual untuk kebutuhan konsumsi, sehingga tidak ada artinya NTB ditunjuk sebagai pusat sentra benih kedelai nasional.
Sementara harga kedelai sekarang ini sekitar Rp7.000-7.500 per kg untuk baik untuk konsumsi maupun kebutuhan bahan baku tahu dan tempe.
Akhir Januari lalu harga kedelai cukup tinggi sehingga sangat mengkhawatirkan bagi pembuat tahu dan tempe di daerah ini.
Akibat kenaikan itu, Pemerintah Kota Mataram mensubsidi kedelai dan menjadi satu-satunya kabupaten/kota yang melakukan itu. Subsidi kedelai diberikan hanya sekali kepada pembuat tahu dan tempe di Kekalik sebesar Rp20 juta untuk pembelian kedelai sekitar 20 ton.
"Kedelai sebanyak 20 ton tersebut disediakan oleh distributor Bina Arta dan kini para pembuat tahu dan tempe sudah mulai memproduksi," katanya.
Ketua Asosiasi Tahu-Tempe Kekalik, Mataram H. Hasbah mengatakan, harga kedelai Rp7.700 per kg, sementara pemerintah Kota Mataram memberikan subsidi sebesar Rp1.000 per kg, jadi yang harus dibayar oleh perajin tahu tempe Rp6.700 per kg.
Dia menjelaskan, sekitar 600 pembuat tahu dan tempe di Kekalik terancam busung lapar akibat naiknya harga kedelai yang sangat besar dari Rp3.500 hingga Rp7.700 bahkan Rp8.000 per kg.
"Harga kedelai naik dari 4.300 menjadi Rp8.000 per kilogram, harga bahan baku utama tahu tempe ini mengalami kenaikan secara nasional," katanya. (*/lin)