< >

Setelah Ditembak Dibakar Hidup-hidup

Selasa, 19 Februari 2008 21:26
Kapanlagi.com - Seorang laki-laki Siam berumur 46 tahun ditembak dan dibakar saat mencoba lolos dari serangan tersangka pejuang Melayu pada Selasa di wilayah berpenduduk sebagian besar suku Melayu di Thailand selatan.

Netr Noh-Uma, pejabat lembaga jalan raya, ditembak saat mengendarai motor dengan rekannya di Pattani, satu dari tiga propinsi di sepanjang perbatasan dengan Malaysia, yang dilanda empat tahun kerusuhan perlawanan, kata polisi.

Seorang laki-laki berusia 34 tahun naik motor itu bersamanya. Ia juga ditembak, tapi berhasil melarikan diri, kata polisi.

Netr luka terlalu parah, sehingga tak dapat meloloskan diri.

Polisi mengatakan, ketika ia jatuh dari motornya, dua pejuang menyiramnya dengan bensin dan membakarnya.

"Mereka membakarnya hidup-hidup sesudah ditembak dan jatuh dari motornya. Mereka membawa bensin. Mereka sudah merencanakan melakukan itu," kata Letnan Kolonel Polisi Somkiat Karnchanaporn kepada kantor berita Prancis AFP.

Di Yala, propinsi terdekatnya, seorang wanita berumur 18 tahun cedera akibat jatuh dari motornya sesudah bom jalanan meledak di dekatnya.

Polisi menyatakan ledakan itu diduga membidik iringan tentara di dekatnya, tapi tak mengenai sasarannya.

Lebih dari 2.900 orang tewas sejak kerusuhan perlawanan meledak pada Januari 2004 di selatan, yang merupakan kesultanan mandiri Melayu sampai Thailand, yang berpenduduk sebagian besar suku Siam, mencaploknya pada 1902, yang memicu berdasawarsa ketegangan.

Menteri dalam negeri Thailand pada ahir pekan lalu mundur sarannya bahwa pemerintah baru negara itu akan mempertimbangkan memberi tingkat swatantra bagi wilayah selatan, yang berpenduduk sebagian besar suku Melayu.

"Saya meninggalkan apa pun, yang saya sudah katakan, termasuk seruan mendirikan daerah istimewa. Selatan akan menjadi daerah biasa seperti ke-76 propinsi kami," kata Chalerm Yubamrung kepada wartawan.

Perbalikan sikapnya itu terjadi hanya tiga hari sesudah ia menyuarakan kerelaan mempertimbangkan pemerintahan mandiri untuk tiga propinsi bergolak di selatan, Narathiwat, Pattani dan Yala.

"Saya ingin menegaskan bahwa kemungkinan swatantra, tapi akan membicarakan jenis pemerintahan, yang akan diberikan," kata Chalerm kepada wartawan pada Selasa.

Ia mengatakan bahwa Thailand akan mempertimbangkan swatantra seperti di wilayah paling barat Cina, Xinjiang, yang merupakan daerah swatantra berpenduduk sebagian besar beragama Islam, sebagai contoh, yang mungkin untuk propinsi itu.

"Kita tidak dapat membiarkan lagi begitu banyak serangan bom, yang menelan korban jiwa itu. Kita harus melakukan tindakan untuk memperbaiki keadaan dan tidak hanya menunggu dibunuh," katanya.

Chalerm mengatakan bahwa tidak sama seperti yang digantikannya, ia tidak akan sering mengunjungi daerah selatan itu dan menyatakan kunjungan seperti itu hanya menambah kekerasan.

"Pejuang membalas dengan keras bila seorang menteri utama pemerintah mengunjungi daerah itu," katanya.

Chalerm juga mengisyaratkan bahwa badan intelijen tetap yakin bahwa gerilyawan bisa berusaha memperluas kegiatan mereka dan kemungkinan serangan bom di pusat niaga Hat Yai di selatan atau bahkan di Bangkok.

Ia mengatakan bahwa klab malam di daerah selatan pada umumnya berada dalam bahaya, karena gerilyawan menganggap tempat itu sebagai tempat maksiat.

Chalerm mengatakan akan meminta pejabat setempat untuk mempertimbangkan pembatasan baru terhadap kehidupan malam itu. (*/rsd)