< >

Spekulasi OPEC Turunkan Produksi, Harga Minyak Turun Tipis

Rabu, 20 Februari 2008 12:17
Kapanlagi.com - Harga minyak dunia turun tipis di perdagangan Asia, Rabu, setelah mencapai level puncak dan rekor baru semalam karena spekulasi OPEC akan menurunkan produksi minyak mentahnya, kata kalangan dealer.

Pada perdagangan pagi, kontrak utama minyak jenis ringan di New York untuk pengiriman Maret turun 52 sen menjadi US$99,49 per barel.

Kontrak itu sempat melonjak mencapai rekor tertinggi perdagangan harian ketika mencapai level US$100,10 per barel sebelum ditutup pada kisaran US$100,01 di New York Mercantile Exchang.

Minyak Laut Utara Brent untuk pengiriman April turun 67 sen menjadi US$97,89 setelah bertahan di US$98,56 per barel, naik US$3,65 pada Selasa.

Harga kontrak itu awalnya sempat melonjak mencapai US$98,70.

Kalangan analis mengatakan munculnya spekulasi bahwa Organisasi Negara Pengekspor minyak yang memasok 40 kebutuhan minyak mentah dunia akan menurunkan produksinya pada pertemuan 5 Maret mendatang.

"Kapan dan bagaimana produksi itu diturunkan menjadi faktor utama disini," kata Darius Kowalczyk, senior investment strategist di CFC Seymour Securities di Hong Kong.

"Saya tidak habis fikir minyak bisa mencapai 100. Ini bukan persoalan besar karena permintaan masih tetap turun."

Awal bulan ini, OPEC meninggalkan tingkat produksi harian resminya pada kisaran 29,67 juta barel minyak.

Iran, Minggu, menolak mematuhi perintah OPEC untuk menurunkan produksi pada pertemuan Maret mendatang, langkah penurunan yang sangat ditentang negara konsumsi minyak.

OPEC diperkirakan menurunkan produksinya untuk berjaga-jaga jika terjadi kelebihan pasokan karena turunnya permintaan di belahan utara bumi dengan berakhirnya musim dingin, kata Kowalczyk.

Faktor lain yang mendukung melonjaknya harga adalah terus berlangsungnya sengketa antara Venezuela yang kaya minyak dengan raksasa minyak ExxonMobil.

"Venezuela memutuskan pasokan ke Exxon pekan lalu membuat pasar terpinggirkan meski berbagai upaya dilakukan untuk menurunkan dampak keadaan tersebut terhadap pasokan, kata Mike Fitzpatrick dari MF global.

Perusahaan minyak terbesar dunia, ExxonMobil, mengaku mengantongi perintah dari pengadilan untuk membekukan kekayaan BUMN perminyakan Venezuela, PDVSA, senilai US$12 miliar.

Kalangan trader juga mengingatkan kemungkinan berlanjutnya ketidakstabilan di Nigeria sebagai produsen minyak terbesar di Afrika.

Produksi dari terminal ekspor di Selatan Nigeria berkisar 150.000 sampai 200.000 barel per hari setelah perbaikan jaringan pipa yang rusak karena sabotase, kata Royal Dutch Shell, Selasa.

Sejak awal 2006, serangan kelompok militan di kawasan itu telah menurunkan produksi minyak 25%. (kpl/rit)