Komisaris Utama kelompok usaha Waterford Wedgwood yang memiliki saham Royal Doulton, Sir Anthony O` Reilly, di Tangerang, Banten, Rabu, mengatakan pihaknya akan menjadikan Indonesia sebagai basis produksi keramik rumah tangga Royal Doulton.
"Kami akan memproduksinya dalam satu atap di Indonesia," katanya usai peresmian pabrik decal atau bahan cetakan dekorasi keramik yang dihadiri Menperin Fahmi Idris.
Pada tahap pertama, perusahaan itu membangun pabrik decal yang selama ini diimpor dari berbagai negara. Investasi tahap awal itu mencapai sekitar US$10-15 juta.
"Mesin produksi decal itu termasuk yang tercanggih di dunia yang menghasilkan enam juta lembar decal per tahun, dan akan ditingkatkan produksi decal menjadi 12 juta per tahun," katanya.
Peningkatan produksi tersebut dilakukan seiring dengan rencana perluasan investasi produksi keramik rumah tangga dengan merek Royal Doulton dan Royal Albert sebanyak 10 juta buah per tahun pada 2009.
Dengan demikian, kapasitas PT Doulton di Indonesia akan mencapai 22,5 juta buah keramik per tahun. Hal itu menjadikan Indonesia sebagai pusat produksi keramik Royal Doulton, menggantikan produksinya di Inggris.
"Strategi kami di Indonesia adalah mengembangkan investasi sangat besar, terbaik, dan dalam waktu cepat," ujar O`Reilly. Ia melihat Indonesia sebagai tujuan investasi yang menarik karena memiliki tenaga kerja yang terampil.
Oleh karena itu, kelompok usaha Waterford Wedgwood juga berencana masuk ke bisnis media dan migas.
Sementara itu, Menperin Fahmi Idris mengatakan pemerintah akan menjadikan industri keramik sebagai salah satu industri yang akan dikembangkan untuk menyerap tenaga kerja dan memberi nilai tambah tinggi karena menggunakan bahan baku dari dalam negeri.
Namun, diakuinya masalah stabilitas pasokan gas dan listrik masih menjadi kekhawatiran dalam pengembangan industri tersebut yang harus segera di atasi. Pasokan gas saat ini telah aman, katanya, namun industri keramik masih mengalami krisis listrik.
"Terkait soal listrik, saya sudah surati PLN agar berunding secara bisnis dengan pelaku usaha agar industri bisa mendapat pasokan listrik 24 jam sesuai kebutuhan produksinya," ujar Fahmi. (kpl/rit)