Kepala Badan Meteorologi Stasiun El Tari Kupang, Albertus Kusbagio, Rabu, mengemukakan, berdasarkan hasil foto citra satelit, tingkat curah hujan di NTT hingga pertengahan Februari mencapai 587 mm dari batas normal 441 mm.
Sementara Stasiun Klimatologi di Lasiana Kupang mencatat tingkat curah hujan pada periode yang sama mencapai 592,4 mm dari batas normal antara 354-479 mm.
Kusbagio mengatakan, tingkat curah hujan yang tinggi di wilayah NTT tidak semata-mata disebabkan oleh adanya Badai Nicholas, tetapi juga adanya pusat tekanan rendah di tenggara Pulau Timor dan utara Australia pada kisaran antara 1000-1003 milibar (Mb).
Jika dilihat dari kekuatan pusat tekanan rendah tersebut, kata dia, sebenarnya kurang membawa efek terhadap pertumbuhan awan di atas wilayah NTT yang memicu hujan lebat.
Namun, karena adanya palung tekanan rendah sehingga memicu pertumbuhan awan tebal yang mengakibatkan hujan lebat di atas wilayah NTT, katanya.
Ia menambahkan, Badai Nicholas saat ini berada pada posisi 123,4 LS dan 113,6 BT di sekitar pesisir barat Australia sehingga dampaknya sudah mulai berkurang terhadap angin dan gelombang laut di wilayah perairan NTT.
Kecepatan angin yang diakibatkan Badai Nicholas, kata dia, sudah mulai menurun menjadi 40 knot/jam dari sebelumnya 60 knot/jam.
Berdasarkan hasil rekaman citra foto satelit, tinggi gelombang di bagian selatan Pulau Rote, Timor dan Sumba mencapai empat meter lebih, sedang di wilayah perairan Laut Flores mencapai sekitar 3,5 meter dan di Laut Sawu berkisar antara 2-3 meter.
Kusbagio mengatakan, keadaan gelombang laut saat ini belum terlalu bersahabat bagi semua armada pelayaran karena masih disertai angin permukaan antara 10-20 km/jam dari kecepatan angin secara keseluruhan yang mencapai 25 knot/jam atau sekitar 45 km/jam.
Pada tahun 2001, juga pernah terjadi curah hujan jauh melampaui batas normal mengakibatkan sebuah bukit antara Niki-Niki di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dan Timor Tengah Utara (TTU) ambruk, memutuskan jalan utama di Pulau Timor.
Bahkan, perkampungan di dataran rendah Betun dan Besikama di wilayah Belu bagian selatan diterjang banjir bandang, mengakibatkan sejumlah penduduk meninggal dunia dan kehilangan harta benda.
Kini, tanda-tanda akan ada banjir bandang besar itu mulai terlihat, di mana kawasan pemukiman di dataran wilayah selatan Belu mulai terendam banjir dan warga di sejumlah kampung mulai mengungsi. (*/cax)