"Sudah dua pekan tidak ada kapal pengangkut pupuk yang masuk ke Kalsel, karena adanya larangan berlayar oleh Syahbandar Pelabuhan Surabaya," katanya.
Padahal sesuai jadwal, dalam pekan ini saja sudah harus masuk pupuk masing masing SP 36 sebanyak 950 ton dan ponska 1050 ton, yang diangkut oleh dua kapal.
Namun, karena adanya larangan melakukan pelayaran, hingga kini kapal yang memuat pupuk tersebut tidak ada yang masuk ke Kalsel.
"Mulai Rabu ini, seluruh stok pupuk produksi Petrokimia sudah kosong, begitu juga dengan persediaan di beberapa kios di Kalsel juga kosong, terbukti pemilik kios pupuk banyak yang menelpon mempertanyakan kapan datangnya pupuk, terutama Sp 36," katanya.
Kekosongan pupuk tersebut, mulai membuat petani resah, karena saat ini mulai dilakukan proses pemupukan tahap kedua, sehingga kebutuhan pupuk meningkat tajam.
Seorang petani dari Desa Aluan Mati Kecamatan Berabai Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) Hamidah mengungkapkan, banyak petani saat ini kebingungan mendapatkan pupuk.
Kalaupun masih ada penjual yang memiliki stok pupuk, mereka mulai menaikkan harga, kendati tidak terlalu signifikan.
"Untuk saat ini kita sangat memerlukan pupuk SP-36, karena sedang dalam proses pemupukan tahap dua, tapi di pasaran mulai kosong, sehingga untuk sementara pupuk dialihkan ke jenis lain yang masih tersedia," katanya.
Pemimpin perusahaan pelayaran PT.Muda Setia H. Bandu Daeng Manase mengungkapkan, sampai saat ini belum ada satupun kapal barang yang berani berlayar dari Surabaya, karena belum dicabutnya larangan untuk berlayar.
"Belum ada informasi kapan datang kapal dari Surabaya ke Banjarmasin, sampai saat ini tidak satupun nakhoda yang berani menembus tingginya gelombang laut Jawa yang diperkirakan mencapai tiga meter lebih," katanya.
Administrator Pelabuhan (Adpel) Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, Capt. Sufrisman Djaffar mengungkapkan, sampai saat ini belum satupun kapal pinisi atau kapal barang yang berani masuk ke Kalsel.
"Gelombang di Laut Jawa masih mencapai tiga meter, sehingga tidak ada nakhoda yang berani berlayar," demikian Sufrisman Djaffar. (*/rsd)