Jepang Intip Pembuatan Biodisesel Jelantah di Bogor

Kapanlagi.com - Pakar biodiesel dan lingkungan dari Kyoto, Jepang mengunjungi pabrik pengolahan minyak jelantah menjadi bahan bakar biodiesel (BDF) di Bogor, Jumat.

Delegasi tujuh pakar Jepang yang terdiri dari pakar biodiesel fuel (BDF), ahli Clean Development Mekanism (CDM), serta pejabat Pemerintah Kota Kyoto Jepang tersebut juga mengunjungi laboratorium pengolahan minyak jarak menjadi sabun mandi, sabun lulur, dan shampoo di Laboratorium Bio Surfactan Institut Pertanian Bogor (IPB).

Rombongan didampingi Asisten Daerah Bidang Sosial Ekonomi Kota Bogor Indra M Rusli, Asisten Daerah Bidang Umum, Kosasih, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK), Iyus Herdius, dan Direktur Utama PT Bogor Energy Equatorial (BEE), Hasim Hanafie

Hasim Hanafie mengatakan, BEE yang memproduksi biodiesel memiliki dua mesin masing-masing berkapasitas 20 liter dan 150 liter, yang bisa bekerja sampai lima kali produksi per hari.

"Karena keterbatasan bahan baku minyak jelantah, yang sering dioperasikan adalah mesin yang berkapasitas 20 liter jelantah," katanya kepada ANTARA.

Proses pengolahan dari minyak jelantah menjadi BDF membutuhkan waktu sekitar dua jam. Dari 100 persen minyak jelantah plus metoksida 10 persen, setelah diolah menjadi 90 persen biodiesel dan 10 persen gliserin (limbah).

"Biodiesel dimanfaatkan untuk bahan bakar alternatif kendaraan, sedangkan gliserin yang merupakan limbah biodiesel dimanfaatkan untuk pembuatan sabun mandi, sabun cuci, sabun lulur, dan shampoo," jelas dia.

Asisten Daerah Bidang Sosial Ekonomi Kota Bogor, Indra M Rusli mengatakan, Pemerintah Kota Bogor memanfaatkan BDF dari minyak jelantah untuk bahan bakar bus Transpakuan yang dikelola Perusahaan Daerah Jasa Transportasi (PDJT).

"Karena keterbatasan minyak jelantah, dari 10 unit bus baru lima unit bus yang menggunakan BDF, itu pun baru sebagai bahan bakar aditif dengan komposisi 20 persen BDF dan 80 persen solar," katanya.

Keunggulan BDF, kata dia, emisi gas buang lebih rendah, sehingga lebih ramah lingkungan. Sedangkan, biaya produksi relatif sama dengan harga solar.

"Persoalan yang dihadapi Pemerintah Kota Bogor saat ini adalah kesulitan mengumpulkan minyak jelantah, baik dari perusahaan maupun dari rumah tangga," kata dia.

Sementara itu, pimpinan rombongan Jepang, Makoto Kato dari Overseas Environmental Corporation Center (OECC) mengatakan, timnya siap membantu Pemerintah Kota Bogor dalam mengelola konversi minyak jelantah menjadi BDF secara sungguh-sungguh.

Mereka mengunjungi Kota Bogor selama dua hari pada Kamis (21/2) dan Jumat ini, guna melihat proses pengolahan minyak jelantah menjadi BDF serta produk turunan lainnya. (*/rsd)

©2003-2007 KapanLagi.com